Kabupaten Brebes sebagai sentra produksi bawang merah dapat mendukung 23% kebutuhan bawang merah di tingkat nasional. Pemenuhan kebutuhan bawang merah ini mungkin akan terus menurun dengan penurunan produksi bawang merah di Kabupaten Brebes. Penurunan ini disebabkan oleh adanya kerusakan sifat fisik dan sifat kimia tanah serta berkurangnya mikro-organisme tanah, oleh karena itu, perlu segera adanya upaya perbaikan tanah. Perbaikan tanah ini dapat menggunakan zeolit dan atau pupuk organik yang berupa pupuk kompos kandang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pendapatan petani, dan keuntungan dari usahatani bawang merah pada perlakuan zeolit dan pupuk kandang sapi dengan dosis yang berbeda. Dalam penelitian ini dibuat 16 petak penanaman berukuran 2 m x 1,5 m , dan masing-masing petak dibuat petak efektif berukuran 1m x 1 m. Pemberian dosis zeolit dan pupuk kandang sapi dilakukan secara kombinasi terutama pada 15 petak perlakuan, sedangkan sisanya 1 petak sebagai kontrol (perlakuan petani). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata produktivitas 17,17 ton/ha dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp. 471.500.000,-/ha pada pelakuan zeolit, ini lebih besar daripada rata-rata produktivitas pada perlakuan pupuk kandang sapi sebesar 16,68 ton/ha dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp.416.937.500,-/ha dan rata-rata produktivitas pada kontrol sebesar 16,54 ton/ha dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp.413.500.000,-/ha. Rata-rata biaya produksi per hektar pada perlakuan zeolit sebesar Rp.95.836.6750,-/ha, ini lebih kecil dari pada rata-rata biaya pada perlakuan pupuk kandang sapi sebesar Rp. 98.835.000,- dan pada kontrol (Rp.320.290.000,-/ha). Sementara itu, rata-rata R/C Rasio dan rata-rata B/C rasio pada perlakuan zeolit masing-masing sebesar 4,48, dan 3,48, pada perlakuan pupuk kandang sapi 4,22 dan 3,22 dan pada kontrol 4,44 dan 3,44. Artinya usahatani bawang merah pada perlakuan zeolit dan pupuk kandang sapi maupun kontrol bermanfaat bagi petani.