Yusep Kartiwa Caryana
PPPTMGB "LEMIGAS"

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PROPOSED CO2 HYDRATE TECHNOLOGY APPLICATION FOR CARBON CAPTURE AND STORAGE IMPLEMENTATION IN INDONESIA Yusep Kartiwa Caryana
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 40 No 2 (2017)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.40.2.41

Abstract

Carbon Capture and Sequestration (0r Storage)—known as CCS needs to be implemented in various development activities in Indonesia including downstream oil and gas industry because the government of Indonesia has adopted the Paris Agreement on Greenhouse Gas Emissions Reduction. Various capture techniques have been developed for capturing CO2 from post combustion emission. One of the new approaches considered for capturing CO2 and hence reducing to atmospheric emissions is based on gas hydrate (crystallization) technology. The basis of the technology is the selective partition of the target component between the hydrate phase and the gaseous phase. It is expected that CO2 is preferentially trapped and encaged into the hydrate crystal phase compared to the other components. Previous study found that the gas/hydrate equilibrium pressure and temperature for the fl ue gas mixture in the range of 7.6 MPa and 11.0 MPa at 274 K and 277 K respectively, are inappropriate to the downstream oil and gas industrial reality because the operating cost will be expensive to compress the gas to the hydrate formation pressure. Suitable hydrate promoters including Tetrahydrofuran (THF) and Sodium Dodecyl Sulfate (SDS) can be used to achieve moderate hydrate formation pressure and energy consumption appropriate to the industrial reality. In the presence of THF and SDS about 62.3 Nm3/m3 CO2 hydrate can be formed at 30 bar pressure and 274 to 277 K temperature within around 15 minutes reaction time.Many experiments result indicates that continuous hydrates formation will be feasible for scale-up to industrial settings including downstream oil and gas industry emission reduction if the technology assures an optimal contact between gas and liquid phases plus the proper hydrate promoter. However, compared to current international carbon credit, the feasibility of onshore CO2 abatement cost in downstream oil and gas industry sensitively depends on the distance of CO2 hydrate pipeline transportation.
KAJIAN KEBIJAKAN CADANGAN PENYANGGA BAHAN BAKAR MINYAK SERTA RENCANA UMUM PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK UNTUK MENJAMIN KESINAMBUNGNAN PENYEDIAAN ENERGI PADA PROGRAM IMPLEMENTASI TOL LAUT (Petroleum Fuel Reserves Policy and Power Plant Construction Planning Reviews to Assure Energy Security Supply for Sea Toll Implementation Program) Yusep Kartiwa Caryana
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 1 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.1.14

Abstract

Tol Laut untuk memperkuat jalur pelayaran telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Implementasi tol laut akan meningkatkan konsumsi Minyak Bakar, Minyak Solar dan listrik di dalam negeri. Untuk menjamin kesinambungan program implementasi tol laut, peningkatan konsumsi Minyak Bakar dan Minyak Solar dapat diantisipasi melalui Program Prioritas Penyediaan Minyak Bakar dan Minyak Solar yang diusulkan dalam KebijakanCadangan Penyangga Bahan Bakar Minyak yaitu: 1. Penyelesaian Peraturan Presiden tentang Cadangan Penyangga dan Cadangan Operasional Minyak dan Gas Bumi. 2. Penyelesaian Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Cadangan Penyangga dan Cadangan Operasional Minyak dan Gas Bumi. 3. Penugasaan Badan Usaha Milik Negara untuk Penyediaan Cadangan Penyangga Minyak Bakar dan Minyak Solar. 4. Penugasaan Badan Usaha Niaga Umum Bahan Bakar Minyak oleh BPHMIGAS untuk Penyediaan Cadangan Operasional. Minyak Bakar dan Minyak Solar. 5. Pelaksanaan Mandatori Biofuel sesuai Peraturan Menteri ESDM nomor 12 tahun 2015. Sedangkan peningkatan konsumsi listrik Untuk kesinambungan implementasi tol laut dapat diantisipasi melalui Program Prioritas Penyediaan Listrik yang diusulkan yaitu: 1. Produksi listrik di seluruh wilayah pelabuhan tol laut sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan TenagaListrik (RUPTL) PT PLN (PERSERO) 2015-2024 serta Penyediaan kebutuhan listrik tambahan di wilayah pelabuhan tol laut Batu Ampar Batam dan Teluk Bayur. 2. Pelaksanaan Mandatori Biofuel pada penyediaan listrik sesuai Peraturan Menteri ESDM nomor 12 tahun 2015. Sea Toll to strengthen shipping line has been launched by President of Indonesia Joko Widodo. Sea toll implementation will bring about the increase of domestic energy consumption including diesel oil, fuel oil and electricity. Maintaining sustainability of sea toll implementation program, the increase of diesel oil and fuel oil consumption can be anticipated by Proposed Diesel Oil and Fuel Oil Supply Program Priority. The program are: 1. Accomplishment of presidential regulation in petroleum fuel reserves. 2. Accomplishment of ministerial regulation in petroleum fuel reserves. 3. State owned company assignment for petroleum fuel reserves. 4. BPHMIGAS to assign petroleum fuel wholesales to provide petroleum fuel reserves. 5. Biofuel mandatory implementation in accordance to the Ministry of Energy and Mineral Resources Regulation No. 12/2015. Whilst the rise of electricity consumption can be counted on Proposed Electricity Supply Priority Program. This program are: 1. Electricity production among sea toll harbours need to be matched to Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (PERSERO) 2015-2024 plus additional power plant production capacity at TelukBayurport in Padang and BatuAmparport in Batam. 2. Biofuel mandatory implementation in accordance to the Ministry of Energy and Mineral Resources Regulation No. 12/2015.
Garis Besar Rencana Substitusi Minyak Tanah oleh Gas Bumi Melalui Tabung Senji Yusep Kartiwa Caryana
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 2 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.2.194

Abstract

Pada tahun 2006, Pemerintah Indonesia mendeklarasikan Program Energi Alternatif untuk mengurangi konsumsi Bahan Bakar Minyak di dalam negeri. Salah satu program yang direncanakan adalah substitusi minyak tanah oleh gas SENJI (CNG; Compressed Natural Gas) untuk keluarga prasejahtera. Substitusi ini akan diimplementasikan melalui distribusi gas dengan menggunakan tabung gas SENJI, sebagai salah satu paten LEMIGAS. Program ini kemudian dikembangkan sebagai Program Gas SENJI. Rencana implementasi Program Gas SENJI (pada tahun anggaran 2007) meliputi identifikasi sumber gas SENJI, pemetaan wilayah konsumen, pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) tabung dan fasilitas pengisian gas SENJI, kerangka regulasi dan konsep skema bisnis serta proyek percontohan gas SENJI untuk mengantisipasi kendala dan kesulitan yang dapat muncul pada saat implementasi. Selain itu, hasil pilot proyek percontohan diperlukan juga sebagai masukan untuk penyusunan Road Map Gas SENJI.
Perbandingan Alternatif Distribusi Bahan Bakar Gas untuk Substitusi Minyak Tanah Sektor Rumah Tangga Yusep Kartiwa Caryana
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 1 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.1.200

Abstract

Dalam rangka menunjang program pemerintah untuk mengurangi subsidi dengan substitusi minyak tanah sektor rumah tangga oleh gas bumi dilakukan kajian perbandingan alternatif distribusi gas bumi yang layak untuk diterapkan. Kajian dilakukan melalui survei literatur dan penelusuran informasi perkembangan penelitian di bidang moda penyimpanan dan distribusi gas bumi skala kecil meliputi penyimpanan dan distribusi hidrat gas, adsorben gas bumi dan tabung gas SENJI serta LPG 3 kg. Setelah dibandingkan berdasarkan parameter teknis operasional dan keekonomian, alternatif penyimpanan dan distribusi melalui tabung LPG 3 kg dan tabung gas SENJI memiliki keunggulan dibandingkan hidrat gas dan adsorben gas bumi di antaranya tekanan operasi yang lebih rendah, temperatur operasi yang sesuai dengan temperatur ambient daerah tropis, efisiensi pemanfaatan gas 100% pada tekanan atmosferik, bahan material tabung yang relatif lebih mudah serta kemudahan dalam pengembangan standar peralatan. Walaupun demikian, kapasitas penyimpanan dalam tabung gas SENJI relatif kecil dibanding kapasitas penyimpanan hidrat gas dan adsorben gas bumi. Selain itu, berdasarkan rekomendasi standar US Department of Transportation, sebelum tabung gas SENJI diproduksi secara massal untuk digunakan secara luas oleh masyarakat perlu dilakukan analisis confinement test yaitu pengamatan dan pengujian unjuk kerja tabung gas SENJI di dalam ruangan tertutup yang terbakar.
Garis Besar Rencana Penelitian dan Pengembangan Adsorben untuk Distribusi dan Penyimpanan Bahan Bakar Gas Skala Rendah Yusep Kartiwa Caryana
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 3 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.3.204

Abstract

Pengurangan subsidi melalui substitusi minyak tanah sektor rumah tangga oleh Bahan Bakar Gas (BBG) terkendala oleh keterbatasan jaringan pipa distribusi gas. Badan usaha distribusi gas bumi yang berorientasi profit center kurang berminat mengembangkan jaringan pipa gas ke konsumen rumah tangga yang tersebar dan memiliki tingkat konsumsi BBG yang sangat rendah karena alasan keekonomian. Oleh karena itu, PPPTMGB ”LEMIGAS” selalu melakukan penelitian dan pengembangan teknologi alternatif distribusi dan penyimpanan BBG tekanan dan skala rendah guna menanggulangi keterbatasan jaringan pipa distribusi gas untuk mensubstitusi minyak tanah sektor rumah tangga oleh BBG. Salah satu teknologi alternatif distribusi dan penyimpanan BBG tekanan dan skala rendah yang dipertimbangkan PPPTMGB ”LEMIGAS” untuk dikembangkan adalah teknologi adsorben BBG, yang menggunakan bahan baku karbon aktif dari naturally fiber (fiber alami) beserta zat perekat yang dikompres pada tekanan dan temperatur tertentu. Teknologi adsorben BBG ini dipertimbangkan untuk dikembangkan karena bahan baku adsorben dan zat perekat organik tersedia dengan melimpah di Indonesia. Selain itu, proses sintesa adsorben BBG menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga akan dapat menggunakan kemampuan nasional secara maksimal. Penelitian dan pengembangan teknologi adsorben BBG yang dilaksanakan di PPPTMGB ”LEMIGAS” berfokus pada pembentukan adsorben BBG kinerja tinggi melalui parameter kinerja adsorben yaitu kapasitas adsorsi dan desorpsi BBG yang tinggi, kinetika adsorpsi yang baik, sifat mekanik yang unggul, stabilitas dan durabillitas tinggi, ketersediaaan bahan baku serta sintesa yang efektif dan efisien.