Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

COMPARISON OF BIODIESEL B-20 AND B-30 ON DIESEL ENGINE PERFORMANCES AND EMISSIONS Lies Aisyah; Cahyo Setyo Wibowo; Sylvia Ayu Bethari
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 39 No 3 (2016)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.39.3.101

Abstract

Biodiesel is renewable energy that is made from renewable sources such as vegetable oil (palm oil, soybean oil or jathropa oil) through a trans-esterification reaction. Biodiesel can be used as a substitute for diesel fuel or as a mixture with diesel fuel. B-20 and B-30 fuel are a biodiesel mixture with diesel fuel which contains 20% biodiesel and 80% diesel fuel and 30% biodiesel and 70% diesel fuel respectively. The aim of this study is to compare the performance tests of B-20 and B-30 on a diesel engine. Comparison of their performance comprises engine power, engine torque, specific fuel consumption (SFC) in various loads and emissions. Result shows that the B-20 and B-30 performance is affected by the chemical-physical characteristics of fuel, such as kinematic viscosity, cetane number, density and calorific values. Performance test results show that B-30 has 1.69% lower engine power and 0.62% higher SFC than B-20 at a full load condition. In contrast, B-30 has better emissions than B-20 with a 6.71% decrease in smoke opacity.
OPTIMASI KINERJA SISTEM PERALATAN KONVERSI LGV MIX DME PADA KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT ( The Performance Optimization of DME Fuel with Dual Fuel System in Diesel Engine Vehicles) Reza Sukaraharja; Cahyo Setyo Wibowo; Riesta Anggarani; Lies Aisyah
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.6

Abstract

Kegiatan penelitian pemanfaatan DME (Dimethyl Ether) sebagai bahan bakar kendaraan merupakan kegiatan lanjutan dari tahun sebelumnya yang dicampurkan (mix) dengan bahan bakar LGV. Penggunaan peralatan konversi LGV yang digunakan sebagai alat konversi dan umum dipergunakan sebagai alat konversi bahan bakar gas untuk kendaraan masih menghasilkan unjuk kerja yang belum optimal khususnya apabila digunakan sebagai alat konversi untuk bahan bakar DME. Perancangan peralatan konversi DME mix LGV yang sesuai dengan kebutuhan jenis dan tipe mesin tentu akan menghasilkan unjuk kerja yang optimum seperti yang telah dilakukan pada kegiatan 2014. Demikian juga dengan penempatan peralatan konversi DME yang compact akan memberikan kinerja yang sebaik menggunakan bahan bakar bensin serta kenyaman bagi pengemudi. Pengujian melalui serangkaian setting peralatan konversi diharapkan mendapatkan hasil kinerja yang optimum hingga setara dengan menggunakan bahan bakar bensin serta menghasilkan emisi gas buang yang lebih bersih. Activity research of DME (Dimethyl Ether) utilization as vehicle fuel is a continuation activity from previous year. LGV conversion equipment is generally used as a gas fuel conversion equipment for vehicles, but still produces a less optimal performance when used as a conversion tool for DME fuels. DME mix LGV conversion equipment design that suits your needs and types of machines certainly, is expected to produce optimum performance as it has done on the 2014 activities. Likewise, the placement of a compact DME conversion apparatus will provide the best performance like using gasoline fuel and comfort for the driver. Testing through a set of conversion equipment settings is expected to achieve optimum performance results up to the equivalent of using gasoline and producing cleaner exhaust emissions.
PENGARUH KONDISI PENYIMPANAN TERHADAP STABILITAS OKSIDASI BAHAN BAKAR JENIS BIODIESEL (B-100), BIOSOLAR (B-20) DAN MINYAK SOLAR MURNI (B-0) ( Effect of Storage Conditions on Oxidation Stability of Biodiesel (B-100), Biosolar (B-20) and Diesel Fuel (B-0) ) Cahyo Setyo Wibowo; Riesta Anggarani; Nanang Hermawan; Lies Aisyah
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 50 No 3 (2016)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.50.3.8

Abstract

Penggunaan campuran biodiesel dalam minyak solar sebesar minimal 20% (B-20) di sektor transportasi telah ditetapkan menjadi kebijakan mandatori atau wajib oleh Pemerintah. Untuk menjamin kepuasan masyarakat terhadap kualitas B-20, maka kualitas biodiesel (B-100) yang digunakan harus memenuhi standar yang ditetapkan. Pada pelaksanaan di lapangan, distribusi biodiesel dari produsen biodiesel sampai titik pencampuran dengan minyak solar menjadi salah satu titik penting dalam menjamin kualitas biodiesel. Selain itu, setelah dicampurkan menjadi B-20, kualitasnya juga harus diperhatikan. Beberapa hal yang berpengaruh terhadap kualitas B-100 dan B-20 selama penyimpanan adalah: waktu penyimpanan dan kondisi penyimpanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi penyimpanan terhadap parameter kritikal yang terkait dengan aspek kestabilan B-100, B-20 dan B-0 selama periode penyimpanan tertentu (3 bulan).Kondisi penyimpanan yang disimulasikan dalam penelitian ini adalah penyimpanan dalam tangki berbahan stainless steel seperti yang umum digunakan pada tangki penyimpanan bahan bakar. Variasi kondisi penyimpanan adalah: (1) penyimpanan luar ruangan pada temperatur lingkungan (ambien), (2) tangki timbun, (3) penyimpanan dalam ruangan pada temperatur lingkungan (ambien), (4) dalam ruangan pada temperatur 43oC dan (5) dalam ruangan pada temperatur 10oC. Parameter kritikal yang diamati adalah angka asam, viskositas kinematik dan stabilitas oksidasi metode Rancimat yang diukur setiap 1 minggu. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam periode 3 bulan diperoleh stabilitas oksidasi yang stabil untuk sampel B-0 dan B-20, sedangkan sampel B-100 mengalami penurunan stabilitas oksidasi terutama pada penyimpanan temperatur tinggi. Hasil angka asam dan viskositas kinematik menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu terjadi kenaikan dimana kenaikan terbesar disebabkan kondisi penyimpanan temperatur tinggi. Start in January 2016, the Government of Indonesia implemented the mandatory policy of the blending biodiesel in diesel fuel for transportation sector with minimum percentage of 20% (B-20). On ensuring the people satisfaction of B-20 quality, it is necessary to guarantee the quality of biodiesel (B-100) on fulfilling the quality standard. In practice term, biodiesel distribution from the manufacturer to blending facilities becomes important point on keeping the quality of biodiesel. Another point is keeping the quality of the blended fuel B-20. Between other things, these are 2 things most affect biodiesel quality; storage period and storage condition. This research aimed to identify the effect of storage condition on critical parameters related to stability aspects of B-100, B-20 and B-0 in 3 months storage period. The tank being used for all conditions were made from stainless steel. The simulation done in the research were: (1) Outdoor storage on ambient temperature, (2) piled tank, (3) indoor storage on ambient temperature, (4) indoor storage on temperature 43oC, and (5) indoor storage on temperature 10oC. Critical parameters being observed were oxidation stability with Rancimat method, acid value, and kinematic viscosity which all checked once per week. The results shows that in 3 months storage period the samples of B-0 and B-20 are stable, while for B-100 suffered the decreasing of oxidation stability, especially in high temperature storage. The similar effects observed for both acid value and kinematic viscosity, where these 2 parameters increased during 3 months period with the highest caused by high temperature storage.
Kebutuhan Angka Oktana Kendaraan Bermotor Mesin Bensin di Indonesia Cahyo Setyo Wibowo; Lies Aisyah; Hery Widhiarto; Sugeng Riyono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.234

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi mesin pada kendaraan bermotor jenis mesin bensin saat ini, menyebabkan meningkatnya kebutuhan angka oktana bahan bakar jenis bensin sesuai dengan kinerja mesinnya. Studi mengenai penentuan nilai angka oktana bahan bakar jenis bensin sangat penting dilakukan karena setiap negara perlu menetapkan tingkat angka oktana bensin yang disuplai ke pasar. Studi ini sangat bermanfaat untuk pemerintah sebagai penentu kebijakan (terutama dalam menentukan kebijakan pengaturan bahan bakar minyak bersubsidi), produsen pabrikan kendaraan dan konsumen. Metodologi yang digunakan pada studi ini antara lain dengan melakukan survey mengenai populasi jenis kendaraan bermotor jenis mesin bensin di Indonesia, kemampuan produksi kilang Pertamina yang berkaitan dengan angka oktana pada bensin dan perkembangan teknologi mesin kendaraan bermotor. Kemudian, diformulasikan dalam bentuk matriks rencana penentuan kebutuhan angka oktana kendaraan bermotor di Indonesia. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa persentase populasi kendaraan tipe sedan dan kendaraan roda empat dengan penggerak dua roda (tipe 4X2) sebanyak 70%, yang memiliki tingkat rasio kompresi tinggi (di atas 9:1) sehingga membutuhkan bahan bakar dengan angka oktana di atas RON 90. Sedangkan saat ini, kapasitas produksi kilang Pertamina per tahun untuk Bensin RON 92 sekitar 10,91% sehingga diperlukan peningkatan kapasitas produksi kilang. Selain itu, berdasarkan hasil survey terdapat kurang lebih 12 merek mobil dengan 113 tipe kendaraan yang saat ini beredar di Indonesia. Dari 113 tipe kendaraan yang ada, sebanyak 59 tipe kendaraan (52,21%) direkomendasikan menggunakan bahan bakar bensin RON 92, sebanyak 32 tipe kendaraan (28,32%) direkomendasikan menggunakan bahan bakar bensin RON 95, dan sebanyak 22 tipe kendaraan (19,47%) direkomendasikan menggunakan bahan bakar bensin RON 88.