Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BRISK WALKING MENURUNKAN KADAR GULA DARAH DIABETESI DI WILAYAH PEDESAAN Nana Umi Farida; Diana Tri Lestari; Muhammad Jauhar; Faridha Alfiatur Rohmaniah; Iswatun Qasanah; Mohamad Khafidh Rio Irwansyah
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 16, No 2 (2025): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v16i2.3022

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) saat ini menjadi masalah kesehatan yang mengancam masyarakat. DM disebabkan pola hidup kurang sehat atau faktor keturunan. DM berdampak pada penyakit kardiovaskuler, penyakit ginjal, kebutaan, disabilitas, hingga kematian. Salah satu intervensi nonfarmakologi sebagai terapi komplementer yang dapat dilakukan untuk mengontrol kadar gula darah yaitu Brisk Walking. Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh durasi Brisk Walking terhadap kadar gula darah pada pasien DM. Desain Penelitian menggunakan eksperimen semu dengan pendekatan pretest and post-test with control group. Variabel independen yaitu durasi Brisk Walking dan variabel dependen yaitu kadar gula darah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2024 di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus dengan jumlah sampel 19 Responden untuk masing-masing kelompok intervensi dan kontrol. Kriteria inklusi yaitu terdiagnosa DM oleh tenaga kesehatan, hasil pemeriksaan GDS³140 mg/dl, tidak memiliki komplikasi, mengkonsumsi obat anti DM. Kriteria ekslusi memiliki gangguan mobilitasfisik/ disabilitas dan menerima terapi nonfarmakologi lain. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi kadar GDS dan alat pengukur kadar gula darah dengan merk Easy Touch Glucose tipe 301. Analisis data menggunakan paired t-test dan Independent t-test. Bentuk intervensi yang diberikan yaitu Brisk Walking selama 30 menit sebanyak 3 kali dalam seminggu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik durasi Brisk Walking terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM dengan nilai p= 0,032 (p0,05).  Durasi Brisk Walking dapat menurunkan kadar gula darah pada pasien DM. Model intervensi menjadi terapi komplementer dan dapat diintegrasikan dalam pelayanan Kesehatan masyarakat di puskesmas misalnya posbindu PTM, posbindu lansia, dan prolanis. AbstractDiabetes Mellitus (DM) is currently a public health problem threatening the community. DM is caused by unhealthy lifestyles or hereditary factors. It can lead to cardiovascular disease, kidney disease, blindness, disability, and even death. One non-pharmacological intervention as a complementary therapy that can be implemented to control blood sugar levels is diabetes.Brisk WalkingThe aim of this study was to analyze the effect of the duration of brisk walking on blood sugar levels in DM patients. The research design used a quasi-experimental approach.pretest and post testwith control group. The independent variable is duration Brisk Walking and the dependent variable was blood sugar levels. This study was conducted from February to April 2024 in the Dawe Community Health Center (UPT) working area of Kudus Regency, with a sample size of 19 respondents for each intervention and control group. Inclusion criteria were a diagnosis of diabetes mellitus by a health worker, and blood glucose (GDS) test results. ³ 140 mg/dl, no complications, taking anti-diabetic medication. Exclusion criteria included impaired physical mobility/disability and receiving other non-pharmacological therapy. The instruments used were a GDS level observation sheet and a blood sugar measuring device with the brand Easy Touch Glucose type 301. Data analysis using paired t-test andIndependent t-test. The form of intervention provided isBrisk Walking for 30 minutes, 3 times a week. The results showed a statistically significant effect of the duration of brisk walking on reducing blood sugar levels in diabetes patients with a p value of 0.032 (p 0.05). Brisk Walking can lower blood sugar levels in DM patients. The intervention model is a complementary therapy and can be integrated into public health services at community health centers, such as PTM Posbindu, Elderly Posbindu, and Prolanis.
EDUKASI KESEHATAN DETEKSI DINI PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA KELOMPOK USIA PRODUKTIF Lutfir Fitri Rahmasari; Lusi Novita Damayanti; Oka Zuvita Ainia; Martha Anggraini; Nila Zahrotul Jannah; Jovita Diva Pramudawardani; Fryka Ayu Yuliasari; Precilia Elisa Monica Corinthians; Novita Fitria Hidayati; Muhammad Robby Syahrul Ramdhani; Muhammad Jauhar; Sukarmin -; Faridha Alfiatur Rohmah
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 7, No 1 (2025): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v7i1.2719

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi masalah kesehatan masyarakat global dan nasional. Hal ini didukung dengan peningkatan angka mortalitas dan mordibitas. Penyebab utama dari kasus PTM adalah pola hidup tidak sehat. Dampaknya PTM antara lain dapat menyebabkan disabilitas, komplikasi penyakit lain, bahkan kematian.Tujuan pengabdian masyarakat yaitu untuk mendsekripsikan pengetahuan tentang penyakit tidak menular. Metode edukasi kesehatan dilakukan dengan bentuk ceramah dengan media leaflet dan tanya jawab yang diselenggarakan pada bulan Desember 2024 di Aula Balai Desa Bakalan Krapyak Kabupaten Kudus. Sasaran kegiatan ini yaitu kelompok usia produktif sebanyak 40 orang. Pada kegiatan ini, instrumen yang digunakan sebagai bahan evaluasi edukasi kesehatan menggunakan pertanyaan terbuka disesi akhir kegiatan dengan 3 pertanyaan tentang faktor risiko, cara pencegahan, dan pengontrolan PTM. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil kegiatan dari 40 sasaran yang mampu menjawab 3 pertanyaan benar sebanyak 20 sasaran. Kesimpulan dari kegiatan ini memang hanya sebagian masyarakat yang memahami penyakit tidak menular. Saran untuk kegiatan selanjutnya bisa dilakukan kegiatan skrining kesehatan berkala setiap 1 bulan sekali disamping memberikan edukasi kesehatan terkait penyakit tidak menular.