Pada kasus beberapa desainer arsitek terkadang melupakan beberapa komponen penting dalam perancangannya, salah satunya yaitu rasa memiliki baik dengan sengaja maupun tidak. Seperti contoh pada perancangan sebuah Liponsos sebagai salah satu program pemberdayaan masyarakat. Liponsos (Lingkungan Pondok Sosial) merupakan tempat penampungan bagi mereka Penyayang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan ODGJ yang terjaring razia. Kurangnya rasa memiliki dari perancang inilah yang kemudian memunculkan masalah seperti mantan pasien yang kembali ke jalanan dan lain sebagainya. Oleh karena itu pemunculan arsitektur perilaku melalui sudut pandang teori kebutuhan oleh Abraham Maslow dapat dilakukan dalam kasus UPTD Liponsos Keputih dalam penerapannya sebagai sarana pemberdayaan Masyarakat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui penggambaran langsung di lapangan. Pemaparan dan penggambaran dapat diambil melalui data primer dan sekunder. Data primer diambil melalui observasi fisik dan non fisik lapangan seperti penataan ruang dan fasilitas yang tersedia, sedangkan wawancara beberapa responden sebagai bahan data non fisik terkait memenuhi kebutuhan mereka. Pengumpulan literatur dari jurnal, buku dan prosiding yang berkaitan dengan arsitektur perilaku dan menyediakan kebutuhan oleh Abraham maslow dapat diolah sebagai data sekunder. Hasil dari penelitian ini nantinya dapat mengungkap pentingnya pemahaman bagaimana desain fisik dan lingkungan dapat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam konteks pemberdayaan. Diharapkan hasil dari kajian ini dapat memberikan wawasan baru dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan arsitektur perilaku.