p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Scientific Journal
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak Usia 0-2 Tahun : Tinjauan Literatur Sabillah Nasitoh; Hiddayaturrahmi; Rosmawaty; Yuni Handayani; Annisa Lidra Maribeth
Scientific Journal Vol. 3 No. 4 (2024): SCIENA Volume III No 4, July 2024
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v3i4.150

Abstract

Anak merupakan individu penerus bangsa yang layak untuk mendapat perhatian dan memiliki hak untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan perilaku kognitif, sosial, dan emosional yang optimal. Terutama pada tahap awal kehidupan dimulai saat anak baru lahir hingga berusia dua tahun merupakan fase tumbuh kembang yang paling penting sepanjang masa hidup seorang anak. Pada tahap ini terdapat lebih dari 1 juta koneksi saraf baru terbentuk setiap detiknya. Menurut data UNICEF (United Nations Children’s Fund) hampir 200 juta anak di negara-negara berkembang mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan setiap tahun akibat kekurangan gizi. Dampak dari hal tersebut dicatat dalam laporan Statistik Global tahun 2022 dimana terdapat 148,1 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting (22,3%), 45 juta mengalami wasting (6,8%), dan 37 juta mengalami overweight (5,6%). Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan populasi anak terbesar keempat di dunia. Hal ini menjadikan tumbuh kembang sangat krusial untuk diperhatikan karena anak yang sehat akan siap menghadapi tantangan global sebagai generasi penerus bangsa. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak tersebut adalah status gizi anak, sanitasi lingkungan, riwayat imunisasi, riwayat ASI, pendapatan orang tua, pendidikan ibu, dan gizi ibu saat hamil. Upaya pencegahan gangguan tumbuh kembang sangat perlu dilakukan deteksi dini dengan cara skrining yang teratur untuk perkembangan menggunakan KPSP dan pemantauan pertumbuhan fisik menggunakan KMS.
Gambaran Kecemasan pada Pasien yang Akan Menjalani Pembiusan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Rialta Hamda; Fisyanti; Wisda Widiastuti; Annisa Lidra Maribeth
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.304

Abstract

Pendahuluan: Pembiusan digunakan untuk mencegah pasien mengalami rasa sakit selama pembedahan. Tujuan pembiusan adalah untuk menjaga pasien dalam kondisi yang optimal selama prosedur pembedahan dengan menghilangkan semua modalitas nyeri, rabaan, suhu, dan posisi. Kecemasan dapat terjadi akibat pembiusan atau anestesi yang sering disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya kurangnya pengetahuan atau informasi, takut akan modalitas nyeri atau rasa sakit saat pembiusan. Tujuan penelitian: Mendapatkan gambaran kecemasan pada pasien yang akan menjalani pembiusan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah. Metode : Jenis penelitian ini adalah deskriptif kategorik, menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 70 responden dengan teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information scale). Hasil : Diketahui usia terbanyak adalah dewasa yaitu 55 orang (78,6%). Jenis kelamin responden terbanyak adalah perempuan yaitu 38 orang (45,3%). Pendidikan responden yang paling banyak ditemui adalah SMA yaitu 31 orang (44,3%). ASA responden terbanyak ASA 2 yaitu 50 orang (71,4%). Jenis pembiusan responden terbanyak adalah pembiusan umum yaitu 32 orang (45,7%). Tingkat kecemasan terbanyak adalah tingkat kecemasan sedang yaitu 32 orang (45,7%). Tingkat kecemasan ringan ada 20 responden (28,6%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 10 orang (14,3%) pada pembiusan regional. Tingkat kecemasan sedang ada 32 responden (45,7%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 17 orang (24,3%) pada pembiusan umum. Pada tingkat kecemasan berat ada 13 responden (18,6%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 7 orang (10%) pada pembiusan umum. Kesimpulan : Usia terbanyak adalah dewasa. Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan. Pendidikan yang paling banyak ditemui pada tingkat SMA. ASA terbanyak adalah ASA 2. Jenis pembiusan terbanyak adalah pembiusan umum. Tingkat kecemasan terbanyak adalah tingkat kecemasan sedang dan yang paling sedikit yaitu tidak cemas. Hasil kuesioner APAIS, didapatkan tingkat kecemasan banyak didapatkan pada pernyataan tentang pembiusan daripada tindakan operasi. Berdasarkan jenis pembiusan, tingkat kecemasan ringan banyak pada pembiusan regional, kecemasan sedang dan kecemasan berat banyak pada pembiusan umum.