p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Scientific Journal
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Karsinoid Atipikal Mediastinum Primer: Laporan Kasus: Laporan Kasus Yessy Setiawati; Yenita; Sabrina Ermayanti; Meta Zulyati Oktora
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.203

Abstract

Tumor karsinoid atipikal yang berasal dari mediastinum sangat jarang; hanya beberapa kasus yang telah dilaporkan dalam literatur. Tumor yang agresif secara klinis ini termasuk ke dalam kelompok tumor neuroendokrin. Tumor karsinoid/neuroendokrin timus adalah neoplasma epitel neuroendokrin yang berasal dari timus dengan gambaran inti derajat rendah; karsinoid tipikal memiliki <2 mitosis/2 mm2 dan tidak memiliki nekrosis, sedangkan karsinoid atipikal mempunyai karakteristik 2-10 mitosis/2 mm2 dan/atau fokus nekrosis. Kami melaporkan kasus seorang pria berusia 26 tahun dengan keluhan sesak napas yang semakin bertambah sejak dua minggu sebelum dirawat di rumah sakit. Pemeriksaan radiologis menunjukkan massa isodens yang tidak homogen di mediastinum anterior. Pasien didiagnosis dengan karsinoma timus Masaoka Koga stadium IVA. Secara mikroskopis, jaringan core biopsi menunjukkan pulau sel dengan inti bulat hingga oval dengan gambaran kromatin salt and pepper dan adanya fokus nekrosis. Jumlah mitosis 2–10 mitosis/2 mm2 terkonfirmasi dengan uji Ki-67. Pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan sel tumor terpulas positif dengan sinaptofisin, kromogranin, dan CD117. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi tumor karsinoid atipikal mediastinum primer. Meskipun prognosisnya buruk, penegakan diagnosis yang cepat, multidisciplinary team (MDT) serta pemberian terapi multimodal diketahui dapat memperpanjang harapan hidup.
Hormonal Contraception and Cervical Cancer Stage: Does Duration of Use Matter? Evidence from Indonesia: Does Duration of Use Matter? Evidence from Indonesia Meta Zulyati Oktora; Niken Safitri; Nadia Purnama Dewi; Primadella Fegita; Desi Aliefia
Scientific Journal Vol. 4 No. 5 (2025): SCIENA Volume IV No 5, September 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i5.268

Abstract

Background: Cervical cancer remains a major public health problem in Indonesia, ranking as the second most common cancer among women. Hormonal contraceptives are widely used, and long-term exposure has been hypothesized to promote cervical carcinogenesis through hormonal modulation of HPV oncogene expression and epithelial proliferation. However, limited evidence is available on their association with the stage of cervical cancer at diagnosis in Indonesian populations. Objective: To examine the association between the duration of hormonal contraceptive use and the clinical stage of cervical cancer among patients at Dr. M. Djamil General Hospital, Padang, Indonesia. Methods: A cross-sectional analytic study was conducted involving 80 randomly selected patients from 222 cervical cancer cases in 2019. Data on age, age at marriage, parity, type and duration of contraceptive use, and cervical cancer stage (FIGO classification) were retrieved from medical records. Descriptive statistics were presented as frequencies and percentages, while bivariate associations were analyzed using the Mann–Whitney U test (SPSS v25). Results: The majority of patients were aged 46–55 years (38.6%), married after age 20 (57.1%), multiparous (80%), and predominantly used injectable contraceptives (62.9%). More than half had used hormonal contraceptives for <5 years (55.7%). Cervical cancer was most frequently diagnosed at stage III (47.1%). A statistically significant association was observed between longer duration of hormonal contraceptive use and more advanced cervical cancer stage (p = 0.008). Conclusion: Prolonged hormonal contraceptive use is significantly associated with advanced cervical cancer stage at diagnosis. These findings highlight the need for targeted counseling and routine cervical cancer screening in women using long-term hormonal contraceptives to facilitate earlier detection and improve clinical outcomes.
Diffuse Sclerosing Papillary Thyroid Carcinoma (Ds-Ptc): Kasus Jarang Dengan Perilaku Agresif: Kasus Jarang Dengan Perilaku Agresif Yuliza Ariani; Yessy Setiawatu; Aswiyanti Asri; Tofrizal; Hera Novianti; Meta Zulyati Oktora
Scientific Journal Vol. 4 No. 6 (2025): SCIENA Volume IV No 6, November 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i6.284

Abstract

Pendahuluan: Diffuse sclerosing Papillary Thyroid Carcinoma (DS-PTC) adalah subtipe PTC yang jarang terjadi dengan perilaku klinis yang agresif. Adanya ciri-ciri papiler membuat ahli patologi salah mendiagnosis tumor ini sebagai PTC konvensional. Namun, adanya keterlibatan kelenjar getah bening yang menyebar di kelenjar getah bening harus diwaspadai oleh ahli patologi. Laporan Kasus: dilaporkan kasus seorang pria berusia 35 tahun dengan benjolan di lehernya yang semakin membesar dalam 3 tahun, mengeluh sesak napas dan suara serak. Benjolan tersebut memiliki konsistensi padat, berukuran 12x7x5 cm dan 10x6x4 cm, dan mengikuti gerakan menelan. Nilai FSH dan T4 berada dalam batas normal. CT scan leher menunjukkan tumor tiroid kistik (sugestif ganas) dengan limfadenopati koli bilateral. Tiroidektomi bilateral dilakukan. Kelenjar getah bening (KGB) dan jaringan dikirim ke laboratorium anatomi patologis untuk diperiksa. Jaringan tiroid tampak berwarna putih kecoklatan pada penampang melintang dengan beberapa kista. Secara mikroskopis, terdapat proliferasi sel tumor yang membentuk struktur papiler dengan inti yang besar dalam mode tumpang tindih dengan gambaran groove dan ground glass. Ditemukan juga sklerosis stroma, psamoma bodies, dan metaplasia skuamosa, serta infiltrasi limfovaskular dan penyebaran sel tumor ke 26 kelenjar getah bening. Temuan ini konsisten dengan diagnosa DS-PTC stadium minimal pT3aN1bMx. Pasien ditangani dengan radioterapi setelah operasi. Kesimpulan: DS-PTC memiliki insiden metastasis kelenjar getah bening dan metastasis jauh yang lebih tinggi dibandingkan dengan classic PTC.Temuan ini harus diperhatikan oleh ahli patologi saat mendiagnosis tumor.