Latar Belakang Mahasiswa kedokteran memiliki intensitas aktivitas melihat dekat yang tinggi akibat penggunaan media pembelajaran fisik dan digital secara berkelanjutan. Aktivitas ini berpotensi menurunkan frekuensi kedipan mata dan meningkatkan evaporasi air mata, sehingga memicu terjadinya Dry Eye Syndrome (DES) atau keratokonjungtivitis sicca. Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan mata merupakan bagian dari amanah dan implementasi prinsip ḥifẓ al-nafs. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aktivitas melihat dekat pada media pembelajaran terhadap terjadinya Dry Eye Syndrome pada mahasiswa kedokteran Universitas YARSI, serta meninjaunya dalam perspektif nilai-nilai Islam. Metode Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan mahasiswa kedokteran Universitas YARSI. Variabel independen meliputi durasi dan jarak aktivitas melihat dekat pada media pembelajaran, baik media digital maupun non-digital. Variabel dependen adalah kejadian Dry Eye Syndrome yang dinilai berdasarkan gejala subjektif. Data dianalisis untuk menilai hubungan antara aktivitas melihat dekat dan kejadian DES. Hasil Aktivitas melihat dekat dengan durasi lama dan jarak yang tidak ergonomis menunjukkan kecenderungan peningkatan gejala Dry Eye Syndrome pada mahasiswa kedokteran. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa fokus visual berkepanjangan dan penurunan frekuensi berkedip berperan dalam ketidakstabilan lapisan air mata. Kesimpulan Aktivitas melihat dekat pada media pembelajaran berpengaruh terhadap terjadinya Dry Eye Syndrome pada mahasiswa kedokteran Universitas YARSI. Upaya pencegahan melalui edukasi ergonomi visual, pengaturan durasi belajar, dan