Pendahuluan : Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman perkebunan penting di Indonesia. Indonesia termasuk Negara produsen minyak kelapa sawit utama di dunia. Salah satu provinsi penghasil minyak kelapa sawit berada dibagian Barat Indonesia yaitu Pulau Sumatra dengan luas 7.994.520 hektar. Selama periode tahun 2010-2019, nilai ekspor kelapa sawit Indonesia dalam bentuk Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Pada tahun 2019, total ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya mencapai 36,17 juta ton (Ditjenbun, 2021). Faktor yang mempengaruhi penurunan produktivitas kelapa sawit diantaranya faktor lingkungan, kualitas bibit serta teknik budidaya dan pengolahan dalam budidaya. Atas dasar tersebut, upaya yang dilakukan guna mengatasi permasalahan penurunan produktivitas kelapa sawit yaitu dengan menyediakan bibit dalam skala besar dengan waktu yang singkat serta menyediakan bibit yang unggul dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Melalui teknik kultur jaringan, tanaman kelapa sawit mampu diperbanyak secara efisien dan cepat dengan teknik aseptik yang memanfaatkan jaringan tanaman sebagai eksplan (Soh,et al., 2017). Metode Pengumpulan Data. Metode yang digunakan yaitu metode Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) yang terdiri dari 2 faktor perlakuan yang pertama faktor Media yang terdiri dari 2 level yaitu MS dan Y3. Yang kedua faktor konsentrasi 2,4-D (0 ppm, 1ppm, dan 3 ppm). Hasil dan Diskusi. Pengamatan pertumbuhan waktu munculnya kalus dalam kultur in vitro menunjukkan bahwa waktu muncul kalus eskplan lebih cepat pada kombinasi perlakuan X1Y2 (Media MS dan 2 ppm 2,4-D) dengan rerata waktu muncul kalus 21 hari setelah kultur (HSK), pada kombinasi X2Y0 (Media Y3 dan 0 ppm 2,4-D) menghasilkan waktu muncul kalus paling lama yaitu 41 HSK yang tidak tumbuh dengan baik pada setiap unit percobaan. Pada perlakuan tanpa ZPT tidak mampu membelah sel dikarenakan nutrisi yang diberikan tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk eksplan tumbuh dan berkembang (Mahadi dkk, 2016). Akan tetapi perlakuan X2Y0 (Media Y3 + 0 ppm 2,4-D) juga mampu tumbuh dengan bantuan hormon endogen yang terdapat pada eksplan umbut tanaman kelapa sawit itu sendiri. Selanjutnya, presentase eksplan hidup semua eksplan pada perlakuan X1Y0 (MS+2,4-D 0 ppm), X1Y1 (MS+2,4-D 1 ppm), X1Y3 (MS+2,4-D 2 ppm), X2Y0 (Y3+2,4-D 0 ppm), X2Y1 (Y3+2,4-D 1 ppm), X2Y2 (Y3+2,4-D 2 ppm), X2Y3 (Y3+2,4-D 3 ppm) menunjukkan bahwa presentase eksplan hidup tertinggi sebesar 100%, sedangkan pada perlakuan X1Y3 (MS+2,4-D 3 ppm) menunjukkan bahwa presentase eksplan hidup terkecil hanya 67%, Simpulan, Penelitian pengaruh media MS (murashige and skoog) dan Y3 (eeuwens) dengan penambahan 2,4 dichlorophenoxyacetic acid terhadap induksi kalus kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq.) secara in vitro, dapat disimpulkan bahwa perlakuan media berpengaruh nyata pada parameter waktu muncul kalus. Perlakuan 2,4-D berpengaruh sangat nyata pada parameter waktu muncul kalus, serta kombinasi media dan zat pengatur tumbuh 2,4-D tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan eksplan kelapa sawit.