Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Numerical Analysis of EPS Geofoam as Lightweight Embankment Fill on Soft Soil: Case Study of Patimban Access Toll Road, Package 3 Akhmad Fauzi Al Afif; Yudhi Lastiasih; Herman Wahyudi
Interdisciplinary Social Studies Vol. 5 No. 1 (2025): Regular Issue: October-December 2025
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/iss.v5i1.1004

Abstract

The construction of the Patimban Port Access Toll Road faces significant geotechnical challenges due to the presence of thick soft soil layers characterized by low bearing capacity and high compressibility. Conventional soil embankments constructed on such ground conditions may induce excessive settlement and require a long consolidation period. This study aims to evaluate the effectiveness of Expanded Polystyrene (EPS) Geofoam as an alternative lightweight embankment material through numerical analysis using PLAXIS 2D. Four embankment configurations were analyzed: conventional embankment with initial preloading and composite embankments incorporating EPS Geofoam with thicknesses of 1 m, 2 m, and 3 m. The evaluation parameters include vertical settlement magnitude, consolidation time, and deformation patterns at key observation points, namely the center line, embankment toe, and critical settlement point beneath the embankment. The results indicate that the application of EPS Geofoam significantly reduces vertical settlement compared to the conventional embankment. Settlement reduction exceeding 85% was achieved for Geofoam thicknesses of 2 m and 3 m, accompanied by accelerated consolidation stabilization within less than 140 days. Increasing Geofoam thickness effectively reduces settlement but may induce uplift at the embankment toe due to lateral stress redistribution. Overall, EPS Geofoam with a thickness of 2–3 m provides the most optimal performance in controlling settlement and accelerating soil stabilization, making it a viable lightweight embankment solution for toll road construction on soft soil, particularly in coastal areas such as Patimban.
Kajian Alternatif Metode Perbaikan Tanah Lunak pada Jalan Tol Trans Sumatera: Analisis dengan Metode Elemen Hingga Dony Afi Hardono; Herman Wahyudi; Yudhi Lastiasih
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i6.64694

Abstract

Jalan merupakan infrastruktur dasar transportasi yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional. Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Betung (Sp. Sekayu) – Tempino – Jambi Seksi 4 Tempino – IC Ness menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mewujudkan percepatan pembangunan infrastruktur strategis. Pada STA 156+300 – 157+000, perencanaan awal direncanakan dengan metode stripping. Namun, kondisi tanah di lokasi tersebut menunjukkan lapisan tanah lunak yang rentan mengalami penurunan, sebagaimana terbukti dengan terjadinya longsoran pada STA 156+500 – 156+575 saat tahap konstruksi timbunan berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas timbunan jalan pada lokasi dengan tanah lunak serta mengevaluasi alternatif metode perbaikan tanah yang paling efektif. Beberapa metode yang diusulkan meliputi soil substitution yang dikombinasikan dengan preloading, penggunaan material ringan seperti geofoam, serta metode pile slab. Analisis dilakukan dengan pendekatan numerik menggunakan Metode Elemen Hingga untuk menilai respon tanah dan timbunan terhadap beban yang bekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi mengikuti desain Rencana Teknik Akhir (RTA) menghasilkan penurunan sebesar 7,7 cm dalam 1 tahun dan tetap 7,7 cm dalam 10 tahun, sehingga dinilai tidak memenuhi syarat. Metode Soil Substitution 3 m + Preloading menunjukkan performa paling seimbang, dengan penurunan hanya 2 cm baik dalam 1 tahun maupun 10 tahun, sehingga dinyatakan memenuhi. Metode Pile Slab menunjukkan hasil terbaik dengan Safety Factor mencapai 2 baik pada kondisi pseudostatis maupun gempa, sehingga aspek penurunan dan keamanan dinyatakan memenuhi.