Fenomena digital mothering merepresentasikan sebuah pergeseran paradigma di mana pengelolaan lingkungan domestik berkaitan dengan teknologi media digital. Studi ini menganalisa bagaimana para ibu di perkotaan memanfaatkan media digital untuk membangun mekanisme tata kelola ekologis informal di lingkungan metropolitan. Dengan menggunakan teori Digital Divide dari Jan van Dijk, studi ini menganalisa empat tahapan sekuensial dari akses teknologi—motivasi, fisik, keterampilan digital, dan penggunaan—di antara anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Arum di Yogyakarta. Studi ini menggunakan sequential explanatory mixed-methods design, dimana data survei kuantitatif dari para ibu yang aktif di bidang lingkungan digabungkan dengan wawancara kualitatif mendalam bersama para pemimpin komunitas, Dinas Pemberdayaan Perempuan, serta Dinas Komunikasi dan Informasi. Hasil studi menunjukkan bahwa meskipun aksesibilitas, motivasi dan fisik sangat umum terjadi (melebihi 93%), namun kesenjangan literasi digital yang signifikan masih terjadi pada kelompok usia yang lebih tua. Namun, navigasi terpusat yang strategis oleh para pengurus komunitas berhasil mengatasi gap yang terjadi. Studi ini menegaskan bahwa gaya hidup hijau yang termediatisasi dan digital mothering bertindak sebagai infrastruktur komunikatif dari bawah ke atas (bottom-up) yang krusial dalam memberdayakan perempuan sebagai agen ekologis digital, mengubah rutinitas domestik menjadi ketahanan ekologis berbasis komunitas.