Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan penurunan popularitas Candi Bahal sebagai salah satu ikon wisata budaya di Sumatera Utara serta merumuskan strategi pengembangannya. Candi Bahal merupakan peninggalan sejarah bercorak Buddha Tantrayana dari abad ke-11 hingga ke-13 yang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya, sejarah, dan edukasi. Namun, dalam satu dekade terakhir, keberadaannya mulai tertinggal akibat persaingan dengan destinasi wisata baru yang lebih atraktif dan didukung infrastruktur memadai. Selain itu, minimnya fasilitas pendukung seperti akses jalan, pusat informasi, dan sarana publik turut memperlemah daya tarik Candi Bahal. Faktor lain yang berperan adalah rendahnya partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata serta lemahnya strategi promosi dan branding, sehingga Candi Bahal kurang dikenal secara luas di tingkat regional maupun nasional. Penelitian ini menggunakan studi literatur dengan pendekatan kualitatif untuk menelaah kondisi terkini, membandingkan dengan studi kasus serupa, dan merumuskan rekomendasi pengembangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penguatan infrastruktur, penerapan community-based tourism (CBT), serta strategi promosi berbasis digital dengan storytelling sejarah dan identitas budaya merupakan langkah kunci untuk menghidupkan kembali Candi Bahal. Dengan strategi terpadu tersebut, Candi Bahal dapat bertransformasi menjadi destinasi unggulan yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mendukung pelestarian warisan budaya bangsa. Abstract This study aims to reveal the factors behind the declining popularity of Bahal Temple as one of the cultural tourism icons in North Sumatra and to formulate appropriate development strategies. Bahal Temple is a historical Buddhist Tantrayana heritage from the 11th–13th centuries, holding significant potential as a cultural, historical, and educational tourism destination. However, in the last decade, its prominence has faded due to competition from newer and more attractive tourist sites supported by better infrastructure. The lack of supporting facilities, such as road access, visitor information centers, and public amenities, has further weakened Bahal Temple’s appeal. Another major issue lies in the low participation of local communities in tourism management and the absence of consistent promotion and branding strategies, resulting in limited recognition of Bahal Temple at regional and national levels. This research employs a literature review with a qualitative approach to examine current conditions, compare with similar case studies, and propose development recommendations. Findings indicate that improving infrastructure, implementing community-based tourism (CBT), and adopting digital promotion strategies emphasizing historical storytelling and cultural identity are essential steps to revitalize Bahal Temple. With an integrated strategy, Bahal Temple has the potential to be transformed into a leading tourism destination that not only generates economic benefits but also contributes to the preservation of Indonesia’s cultural heritage.