Lika Widiawati
Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Padang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Screen Time, Anxiety, and Insomnia in Adolescents: Foundations for Culturally Sensitive Gestalt-Based Group Counseling Lika Widiawati; Neviyarni S; Netrawati Netrawati; Rezki Hariko; Yeni Karneli
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan perangkat layar yang berlebihan telah menjadi fenomena global yang berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan fungsi psikososial remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara screen time, kecemasan, dan insomnia pada peserta didik sekolah menengah pertama di Indonesia sebagai dasar pengembangan intervensi bimbingan kelompok berbasis pendekatan Gestalt. Penelitian menggunakan desain korelasional cross-sectional dengan 98 peserta berusia 12–15 tahun. Screen time, kecemasan, dan kualitas tidur diukur menggunakan instrumen yang tervalidasi dan disesuaikan dengan konteks lokal. Analisis data dilakukan dengan korelasi Spearman dan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan bahwa screen time berasosiasi positif dengan kecemasan (ρ = 0,333; p = 0,001) dan insomnia (ρ = 0,347; p < 0,001). Analisis regresi menunjukkan bahwa screen time menjadi prediktor signifikan terhadap kecemasan (β = 0,297, R² = 0,088) dan insomnia (β = 0,286, R² = 0,082). Kecemasan dan insomnia memiliki korelasi yang sangat kuat (ρ = 0,896; p < 0,001), menunjukkan adanya hubungan timbal balik yang membentuk siklus psikologis maladaptif yang diperkuat oleh paparan media digital. Temuan ini menekankan pentingnya intervensi yang fokus pada regulasi emosi dan kebiasaan tidur, dengan integrasi literasi digital dan pertimbangan konteks sosial-budaya dalam kerangka Gestalt. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman hubungan screen time dengan kesehatan mental remaja di Indonesia dan menjadi dasar pengembangan program bimbingan kelompok yang sensitif secara kultural.