Muliana
Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Hak Konstitusional Kesehatan dan Tanggung Jawab Pemerintah dalam Program Makan Bergizi Gratis Muliana
Journal of Scientific Interdisciplinary Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/jsi1429

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan tanggung jawab konstitusional pemerintah dalam pemenuhan hak atas kesehatan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dilaksanakan pada tahun 2024. Program ini merupakan bagian dari kebijakan nasional untuk menurunkan angka stunting dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan pangan bergizi. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan , pendekatan konseptual, dan pendekatan kebijakan. Data yang digunakan bersumber dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak atas kesehatan telah diatur secara jelas dalam Pasal 28H dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Tetapi  pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis masih menghadapi berbagai kendala, antara lain ketimpangan distribusi, kualitas pangan yang belum seragam, dan lemahnya koordinasi antar lembaga pelaksana. Berdasarkan teori hak konstitusional dan teori tanggung jawab negara, kegagalan dalam implementasi kebijakan dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran tanggung jawab konstitusional karena negara lalai menjalankan kewajiban positifnya terhadap rakyat.
Beyond the Halal-Haram Dichotomy: Reconstructing Islamic Legal Reasoning on Crypto Asset Trading through Ta'aqquli and the Principle of Dar'u al-Mafasid Muqaddam 'Ala Jalbi al-Masalih M. Wahab Syakrani; M. Haitami; Muliana; M. Taufikkurrahman; Noraslina binti Sulaiman
NALAR FIQH: Jurnal Hukum Islam Vol. 16 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The legal status of crypto asset trading remains a debated issue in contemporary Islamic law. Most previous studies assess the issue through a simple halal or haram framework, which does not fully capture the complexity of Islamic legal reasoning. This study examines the legal assessment of crypto asset trading by combining ta'aqquli reasoning with the legal maxim dar'u al-mafasid muqaddam 'ala jalbi al-masalih within the broader objectives of maqasid al-shari'ah. The research uses a qualitative library approach based on normative and conceptual analysis. The data consist of classical and contemporary Islamic legal literature, fatwas, government regulations, and academic publications on cryptocurrency and Islamic finance. The study applies qualitative content analysis and comparative legal analysis to identify the legal basis of crypto asset transactions, assess the balance between potential benefits and harms, and develop a more systematic framework for legal evaluation. The findings show that crypto asset trading falls within the scope of ta'aqquli, where legal rulings should consider rational legal causes, governance standards, regulatory oversight, asset utility, and public interest. Therefore, the principle of preventing harm should function as a framework for balanced evaluation rather than as an automatic reason to prohibit all crypto asset trading. Based on these findings, this study proposes the Ta'aqquli-Maslahah Gradation Model, which classifies crypto assets into three legal categories according to the balance between potential benefits and harms. The model uses practical indicators, including asset characteristics, underlying value, Sharia compliance, governance quality, regulatory status, investor protection, market stability, and consistency with the objectives of Islamic law. This model offers a practical framework for evaluating digital financial innovation and provides guidance for fatwa institutions, regulators, and Muslim investors in assessing crypto assets through a contextual and evidence-based Sharia perspective.