Nessa Ramadhani
UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Potret Kehidupan Sosial dan Aktivitas Sehari-hari Remaja Tunagrahita: Studi Kasus pada DM di Lingkar Barat Bengkulu Nessa Ramadhani; Fixel Khairunaisa; Hedi Olivia Puspita; Hanif Abdur Rasyid
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9790

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai kehidupan sosial dan aktivitas sehari-hari seorang remaja tunagrahita berinisial DM yang tinggal di Lingkar Barat Bengkulu. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kondisi kesehatan, pengalaman pendidikan, pola interaksi sosial, serta aktivitas ekonomi DM saling berhubungan dalam membentuk proses adaptasi dan kemandiriannya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan DM dan keluarganya, observasi terhadap rutinitas harian, serta dokumentasi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan DM yakni riwayat kejang sejak lahir dan adanya bekas operasi di bagian kepala memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan pendidikan dan fungsi sosialnya. DM sempat menghentikan pendidikan pada kelas lima sekolah dasar akibat meningkatnya frekuensi kejang, dan kondisi tersebut turut mempengaruhi ruang gerak serta aktivitas sosialnya hingga masa remaja. Di sisi lain, aktivitas ekonomi berupa berjualan gorengan keliling menunjukkan adanya kemampuan adaptasi dan kemandirian fungsional DM. Aktivitas ini tidak hanya menjadi bentuk kontribusi ekonomi bagi keluarga, tetapi juga menjadi sarana bagi DM dalam melatih tanggung jawab, keterampilan komunikasi dasar, dan penyesuaian diri dalam lingkungan sosial. Dukungan keluarga, terutama dari ayah dan ibunya, menjadi faktor yang paling menentukan dalam proses adaptasi DM. Dukungan tersebut mencakup penyediaan fasilitas seperti kendaraan untuk berjualan, pengawasan kesehatan secara ketat, hingga dorongan emosional yang membantu DM tetap stabil secara psikologis. Namun demikian, penelitian juga menemukan bahwa DM menghadapi berbagai tantangan sosial, seperti keterbatasan interaksi dengan teman sebaya dan pengalaman menjadi sasaran ejekan. Kondisi ini membuat ruang sosial DM cenderung sempit dan kurang mendukung pembentukan identitas sosial yang positif. Selain itu, pola tidur yang tidak teratur dan aktivitas berjualan hingga larut malam menimbulkan risiko bagi kesejahteraan fisiknya. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kehidupan seorang remaja tunagrahita tidak terlepas dari pengaruh kuat aspek kesehatan, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya intervensi, pendampingan, serta program pemberdayaan remaja tunagrahita di tingkat komunitas.