Persoalan kesehatan yang kini tengah dihadapi oleh masyarakat dunia yang sedang diupayakan oleh WHO adalah stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap prevalensi stunting pada balita berusia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut pada tahun 2024. Penelitian ini memakai desain cross-sectional dan metode kuantitatif. Terdapat 103 balita dalam sampel yang memenuhi syarat untuk diikutsertakan. Kuesioner yang diberikan kepada responden digunakan untuk melakukan wawancara dalam rangka mengumpulkan data. Dengan menggunakan perangkat lunak statistik SPSS dan uji statistik Chi Square, analisis univariat dan bivariat adalah dua metode analisis data yang digunakan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 71,8 % balita di wilayah tersebut mengalami stunting dan terdapat hubungan usia ibu saat melahirkan p-value 0,029, tinggi badan ibu p-value 0,033,status gizi ibu berdasarkan LILA p- value 0,033, paritas ibu p-value 0,033, kunjungan ANC p-value 0,002, tingkat pendidikan ibu rendah p-value 0,000, pemberian ASI p-value 0,00, dan usia pertama pemberian MP-ASI 59 p-value 0,024 dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut tahun 2024. Untuk meningkatkan status gizi balita, utamanya stunting, maka harapannya dinas kesehatan dan instansi terkait dapat menyusun kebijakan atau mencari solusi. Selain itu, ibu hamil harus diberi edukasi saat kunjungan ke puskesmas, dan kader posyandu balita harus dilatih tentang dampak stunting sehingga mereka dapat menjadi lebih berpengetahuan dan mampu mendistribusikan informasi tentang pencegahan stunting.