Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Effect of Active Leg Stretching on Foot Sensitivity in Type 2 Diabetes Mellitus Patients at Tilongkabila Health Center Rahma Aulia Mansur; Ita Sulistiani; Gusti Pandi Liputo
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) January 2
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v8i1.10066

Abstract

Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease that often causes complications of peripheral neuropathy in the form of decreased sensitivity of the legs. This condition increases the risk of diabetic leg injuries to amputation if prevention is not carried out early. One of the nonpharmacological interventions that can be carried out is Active Leg Stretching. This study aims to determine the effect of Active Leg Stretching on foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients at the Tilongkabila Health Center. This study uses a pre-experimental design with a one group pretest–posttest approach. The study sample was a type 2 diabetes mellitus patient who experienced decreased sensitivity of the legs and was selected using the Purposive Sampling technique. Active Leg Stretching interventions were administered according to standard operating procedures during the study period. Leg sensitivity was measured using monofilament tests before and after the intervention. Data analysis was carried out using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed an increase in foot sensitivity after being given an Active Stretching Leg intervention with a statistically significant difference (p-value < 0.05). This increase occurs because leg stretching can improve blood flow, reduce muscle stiffness, and improve nerve function, so the sensitivity of the legs increases. It can be concluded that Active Leg Stretching has a significant effect on increasing foot sensitivity in patients with type 2 diabetes mellitus. This intervention is recommended as a simple, safe, and easily applied nonpharmacological therapy in primary health care.
Overview of the Level of Knowledge and Attitude of the Community about the Practice of Antihistamine Drug Self-Medication in Handling Allergies in Biawu Village, South Kota District Nur Inzan Van Solang; Siti Rahma; Gusti Pandi Liputo
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) (Special Issue) - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) January 2
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v8i1.10069

Abstract

Self-medication of antihistamines for the treatment of allergies is a common practice in the community. However, a lack of understanding of dosage, indications, and side effects can pose health risks. This study aims to find out how the level of knowledge and public attitudes about the practice of self-medication of anthistamines in handling allergies in Biawu village, South Kota District. This research method uses a cross-sectional design with a quantitative descriptive approach. The sample totaled 97 respondents who were selected by purposive sampling. Data was collected using a structured questionnaire that has been tested for validity and reliability. Data analysis was carried out descriptively. The population of this study is all people in Biawu village, south Kota district. The results showed that the majority of respondents as many as 58.8% of respondents had a high level of knowledge, 15.5% moderate, and 25.8% low about antihistamine self-medication. Most respondents (96.9%) had a moderate attitude, and only 3.1% had a high attitude. In terms of practice, 62.9% of respondents had high self-medication practices, 27.8% moderate, and 9.3% low. As many as 83.5% of respondents often buy drugs without a medical prescription, and the main source of information is personal/family experience (66%). The conclusion of the study is that although the majority of the public has knowledge of the dangers high practice of antihistamine self-medication. However, the attitude and practice of self-medication is still in the high category. The need for sustainable health education and the active role of health workers in guiding the community to carry out rational and safe self-medication.
Hubungan Mekanisme Koping Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Ruangan Hemodialisa RSUD Dr. M.M Dunda Limboto: The Relationship Between Coping Mechanisms and Anxiety Levels in Chronic Kidney Failure Patients in the Hemodialysis Ward of Dr. M.M Dunda Limboto Regional Hospital Saskia Kumadji; Nasrun Pakaya; Gusti Pandi Liputo
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i8.8376

Abstract

Gagal ginjal kronik merupakan gangguan pada fungsi ginjal yang progresif dan tidak dapat pulih kembali, sehingga kemampuan ginjal gagal untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan terjadinya peningkatan kadar urea dalam darah dan terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus. Salah satu terapi pengganti ginjal adalah hemodialisa, Hemodialisa (HD) atau sering disebut cuci darah adalah proses pembersihan darah dari sampah sisa metabolisme dan cairan yang berlebih oleh bantuan ginjal buatan dari mesin hemodialisa. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik di ruangan hemodialisa RSUD Dr. M.M Dunda Limboto. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif analitik dengan desain Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 67 responden dengan besar sampel 40 responden dengan teknik pengambilan sampel Total Sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Sperman Rank. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil p-value = 0.000 yang lebih kecil dari a = 0,05 berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjla kronik di ruang hemodialisa RSUD Dr. M.M Dunda Limboto.
Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Status Gizi Pasien yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe: The Relationship Between Length of Hemodialysis and Nutritional Status of Patients Undergoing Hemodialysis at Prof. Dr. H. Aloei Saboe Regional Hospital Sherly Syakilla; Nurdiana Djamaluddin; Gusti Pandi Liputo; Maryadi
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i8.8380

Abstract

Prevalensi global gagal ginjal kronik pada tahun 2021 sebanyak lebih dari 843,6 juta. Hemodialisis merupakan tindakan yang dilakukan dengan cara mengalirkan darah dari dalam tubuh untuk dialirkan ke dalam mesin hemodialisis dan dilakukan proses penyaringan sisa metabolisme di dalam dializer dengan menggunakan cara kerja ultrafiltrasi. Masalah umum yang terjadi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis secara rutin adalah penurunan status gizi yang mengarah pada malnutrisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama menjalani hemodialisis dengan status gizi pasien gagal ginjal kronik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metodel yang digunakan yaitu analitik obervarsional dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 81 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 67 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner Subjective Global Assessment (SGA). Analisis data yang digunakan adalah uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan nilai p value sebesar 0,025 (p value < 0,05) yang artinya terdapat hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan status gizi pasien gagal ginjal kronik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan perhatian terhadap status gizi pasien, terutama bagi mereka yang telah menjalani hemodialisis dalam jangka waktu yang lama.
Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Keluarga Dengan Penanganan Awal Pada Pasien Stroke: The Relationship Between Knowledge and Family Support and Initial Treatment for Stroke Patients Nur Mawadah Djano; Nasrun Pakaya; Gusti Pandi Liputo
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i8.8453

Abstract

Stroke menyebabkan terjadinya peningkatan prevelensi angka kematian diindonesia disebabkan karena penyumbatan diotak. Kondisi ini memerlukan dukungan keluarga yang mencakup bantuan, perhatian, dan keterlibatan dalam proses pemulihan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan tindakan penanganan awal stroke. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif korelasi dengan desain Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 76 responden dengan besar sampel 30 responden dengan teknik pengambilan sampel Accidental Sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk pengetahuan keluarga terdapat sebanyak 16 responden (53%) kategori sedang, untuk dukungan keluarga didapatkan sebanyak 19 responden (63%) kategori baik, dan penanganan awal diperoleh dengan masing-masing kategori sebanyak 15 responden (50%). Hasil uji statistic diperoleh hasil p-value 0.000 (p<0.05) dimana terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan keluarga dengan penanganan awal pada pasien stroke dan hasil Chi-square diperoleh nilai p-value 0.008 (p<0.05) sehingga dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan penanganan awal pada pasien stroke. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat adanya hubungan antara pengetahuan dan dukungan keluarga dengan penanganan awal pada pasien stroke