Margawati Van Eymeren
Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Persahabatan yang Dimediasi Lewat Komunikasi Melalui Komputer: Masih Mungkinkah? Margawati Van Eymeren
VISIONER : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif Vol. 10 No. 2 (2023): Visioner : Jurnal Komunikasi, Bisnis dan Konten Kreatif
Publisher : Institut Media Digital Emtek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65873/00fjxk98

Abstract

Fenomena persahabatan telah menjadi enigma tersendiri dan telah direfleksikan sejak jaman filsuf Yunani hingga ke masa kini. Orang yang terlibat dalam persahabatan menggunakan komunikasi interpersonal sedangkan media komunikasi pun mengalami perubahan dari masa ke masa, mulai dari tuturan, ke tulisan, ke elektronik dan internet. Persahabatan diawali perkenalan dan pertemanan yang lalu dikembangkan ke teman akrab atau sahabat. Teknologi Informasi (TI) yang berbasis internet melahirkan media baru dimana komunikasi dapat dimediasi oleh komputer (CMC) dan makna teman (friend) pun berubah. Paradigma peranti dalam TI yang memisahkan secara tajam antara sarana dan tujuan pun memungkinkan adanya perbedaan status teman, ada yang nyata, ada yang fiktif, dan ada yang palsu. Bahkan teman, pertemanan, dan persahabatan dapat dikomodifikasikan. Padahal persahabatan memiliki makna yang medalam dan berfungsi secara etis dalam emansipasi manusia. Tulisan ini bermaksud memahami fenomena persahabatan di era CMC lewat telaah filosofis untuk mendekati permasalahan tersebut. Dengan menggunakan metode kualitatif-interpretif, dilakukan dialektika sublatif atas fenomena persahabatan dalam tiap-tiap masanya. Sublasi atas persahabatan di era sahabat seiring sejalan (era tuturan) dan persahabatan di era sahabat pena (tekstualitas dengan ciri khas berupa “absence presence”) dapat memberi prospek bahwa persahabatan di era CMC masih dapat dipertahankan dengan memerhatikan beberapa hal yang mendasar seperti gaya perbincangan dalam tekstualitas padahal dilangsungkan secara “absence presence” memerlukan keterandalan, kesantunan, dan empati.