Pernikahan dini masih menjadi permasalahan yang cukup tinggi di Indonesia. UNICEF (2020) mencatat Indonesia berada pada peringkat kedua angka pernikahan anak tertinggi di ASEAN, sementara Badan Pusat Statistik melaporkan 1,22 juta perempuan menikah sebelum usia 20 tahun. Di Provinsi Jambi prevalensi mencapai 6,89%, dan di Kota Jambi terdapat 42 permohonan dispensasi nikah serta 63 kasus pernikahan di bawah usia 19 tahun pada tahun 2023. Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya pengetahuan remaja mengenai risiko pernikahan dini. Media edukasi seperti video animasi dinilai mampu membantu remaja memahami materi secara lebih menarik dan mudah dipahami. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi risiko pernikahan dini melalui media video animasi terhadap tingkat pengetahuan remaja. Penelitian menggunakan desain Quasi Experimental dengan Nonequivalent Control Group Design pada 36 responden yang terbagi menjadi 18 kelompok intervensi dan 18 kelompok kontrol melalui teknik proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan diberikan melalui pre-test dan post-test. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan pada kelompok intervensi dengan p-value < 0,001, sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p-value = 0,317). Dengan demikian, edukasi melalui media video animasi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja tentang risiko pernikahan dini dan dapat dijadikan alternatif media edukasi kesehatan dalam upaya pencegahannya.