Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang, dan perlindungan dari kekerasan demi kesejahteraan mereka yang membutuhkan dukungan dari pemerintah. Hal ini karena kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian ini dilakukan atas dasar adanya fenomena peningkatan kasus kekerasan anak yang disebabkan faktor keluarga dan kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan anak. Fenomena tersebut menjadi dasar bagi Pemerintah meluncurkan layanan PUSPAGA sebagai langkah terdekat dalam pencegahan kasus kekerasan anak pada lingkup keluarga yang dapat diakses melalui digital, khususnya di Kota Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses Digitalisasi Layanan Puspaga Dalam Pencegahan Kekerasan Anak di Kota Surabaya yang dianalisis berdasarkan lima elemen fokus teori inovasi oleh Rogers yaitu: keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemampuan uji coba, dan kemudahan diamati. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan proses digitalisasi layanan puspaga telah berjalan dengan baik dengan adanya inovasi aplikasi SIAP PPAK yang terintegrasi secara digital melalui layanan konseling. Meskipun masih terdapat kendala yang ditemui yaitu pemahaman masyarakat terhadap teknologi digital khususnya aplikasi SIAP PPAK serta kendala jaringan, tetapi dapat diatasi dengan sosialisasi lebih intensif oleh Fasilitator Puspaga serta penyediaan fasilitas tambahan bagi masyarakat pengguna layanan apabila terkendala jaringan.