Siswa Merokok Dinonaktifkan, Apakah Muridnya Juga Disanksi?” dengan menggunakan model representasi aktor sosial Theo van Leeuwen. Fokus analisis diarahkan pada cara media membangun konstruksi makna melalui strategi eksklusi dan inklusi, serta bagaimana pilihan bahasa tersebut membentuk posisi aktor dalam wacana pendidikan. Data penelitian berupa teks berita yang dianalisis melalui metode deskriptif kualitatif dengan teknik pembacaan mendalam terhadap struktur linguistik dan representasi sosial di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com menonjolkan peran kepala sekolah sebagai pusat sorotan melalui penyajian peristiwa yang menempatkan tindakan penonaktifan sebagai titik utama narasi. Penggunaan pasivasi dan nominalisasi mengaburkan pelaku institusional, sehingga proses administratif terlihat berjalan tanpa peran individu yang jelas. Selain itu, kategorisasi, asimilasi, dan asosiasi digunakan untuk membangun hubungan antarpihak yang menegaskan posisi lembaga pendidikan sebagai figur dominan, sedangkan siswa direpresentasikan melalui label peran yang lebih umum. Temuan ini memperlihatkan bahwa pemberitaan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk struktur makna yang mempengaruhi cara pembaca memahami hubungan kuasa dalam lingkungan sekolah. Representasi yang dibangun media menunjukkan adanya pola penyusunan wacana yang menempatkan institusi sebagai pusat legitimasi dan menjadikan peristiwa sebagai bagian dari dinamika sosial yang lebih luas. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai bagaimana praktik bahasa dalam media mempengaruhi persepsi publik terhadap isu pendidikan dan disiplin sekolah. Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis; Theo van Leeuwen; Representasi Aktor Sosial