Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN SODA KUE (Sodium bicarbonate) SEBAGAI BUFFER DALAM RANSUM BERBASIS SILASE TERHADAP TINGKAT DEGRADASI DAN PRODUK FERMENTASI IN-VITRO Adnyana I. G. N. A. P.; I. G. L. O. Cakra; I. M. Mudita
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aims to determine the level of degradation and in-vitro fermentation products from the addition of baking soda in silage-based rations. The study used a Completely Randomized Design (CRD), 4 treatments and 4 replications. The treatments given were: P0 (50% silage + 50% concentrate without baking soda), P1 (50% silage + 47.5% concentrate + 2.5% baking soda), P2 (50% silage + 45% concentrate + 5% baking soda), P3 (50% silage + 42.5% concentrate + 7.5% baking soda). The variables observed were the level of BK degradation, BO degradation, pH, N-NH3 concentration, and VFA (Volatile Fatty Acid) in-vitro. The results showed that the addition of 5.0% and 7.5% baking soda (P2 and P3) increased (P<0.05) pH by 3.67% and 5.19%, while the addition of 2.5% baking soda increased pH by 1.98%, but was not statistically significantly different (P>0.05) compared to P0 (6.55). N-NH3, the addition of 5% baking soda increased (P<0.05) N-NH3 by 26.81%, but the administration of P1 and P3 produced N-NH3 that was not significantly different (P>0.05) namely 5.97 mM/L and 5.6 mM/L compared to P0 (5.52 mM/L). Degradation of BK, BO, administration of P2 and P3 increased (P<0.05) by 25.65% and 24.30% and 16.43% and 10.78% respectively, while P1 produced values ​​of 21.58% and 32.12% not significantly different (P>0.05) compared to P0 (20.74% and 32.19%), VFA concentrations of all treatments produced values ​​not significantly different (P>0.05) namely 41.68-46.84 mM/L. Based on the results of the study, it was concluded that the addition of baking soda of 2.5%, 5.0% and 7.5% as a buffer in silage-based rations increased pH, N-NH3, degradation of BK and BO, but produced the same VFA. The addition of baking soda of 5% produced the highest N-NH3, degradation of BK and BO. ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui tingkat degradasi dan produk fermentasi in-vitro dari penambahan soda kue dalam ransum berbasis silase. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu: P0 (50% silase + 50% konsentrat tanpa soda kue), P1 (50% silase + 47,5% konsentrat + 2,5% soda kue), P2 (50% silase + 45% konsentrat + 5% soda kue), P3 (50% silase + 42,5% konsentrat + 7,5% soda kue). Variabel yang diamati yaitu tingkat degradasi BK, degradasi BO, pH, konsentrasi N-NH3, dan VFA (Volatile Fatty Acid) secara in-vitro. Hasil penelitian menunjukkan penambahan soda kue 5,0% dan 7,5% (P2 dan P3) meningkatkan (P<0,05) pH sebesar 3,67% dan 5,19%, sedangkan penambahan soda kue sebesar 2,5% meningkatkan pH sebesar 1,98%, namun secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05) dibandingkan P0 (6,55). N-NH3, penambahan soda kue 5% meningkatkan (P<0,05) N-NH3 sebesar 26,81%, namun pemberian P1 dan P3 menghasilkan N-NH3 berbeda tidak nyata (P>0,05) yaitu 5,97 mM/L dan 5,6 mM/L dibandingkan P0 (5,52 mM/L). Degradasi BK, BO, pemberian P2 dan P3 meningkatkan (P<0,05) masing-masing sebesar 25,65% dan 24,30% serta 16,43% dan 10,78%, sedangkan P1 menghasilkan nilai sebesar 21,58% dan 32,12% berbeda tidak nyata (P>0,05) dibandingkan P0 (20,74% dan 32,19%), Konsentrasi VFA semua perlakuan menghasilkan nilai berbeda tidak nyata (P>0,05) yaitu 41,68-46,84 mM/L. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan penambahan soda kue sebesar 2,5%, 5,0% dan 7,5% sebagai buffer dalam ransum berbasis silase meningkatkan pH, N-NH3, degradasi BK dan BO, namun menghasilkan VFA yang sama. Penambahan soda kue sebesar 5% menghasilkan N-NH3, degradasi BK dan BO tertinggi.
PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI MACAM LEGUM DALAM SILASE RUMPUT GAJAH TERHADAP KECERNAAN DAN PRODUK FERMENTASI IN-VITRO Parwata I. N. T. A.; I. G. L. O. Cakra; A. A. A. S. Trisnadewi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Elephant grass is a palatable forage with good nutritional value for ruminant livestock, and a good forage material to make silage. However, silage that only relies on grass material has a relatively low protein content. Forage feed, a combination of grass and legumes, is needed to complement nutrients needed by livestock. Gliricidia sepium, Calliandra calothyrsus and Indigofera zollingeriana are some of the legumes that can be used as an additional source of protein in silage. This study aimed to determine the effect of adding various legumes in elephant grass silage on digestibility and in-vitro fermentation products. The study used a completely randomize design (CRD), consisting of four treatments and each treatment was repeated four times, so there were 16 experimental units. The treatments given were: P0 (87,5% elephant grass + 10% rice bran + 2,5% molasses), P1 (57,5% elephant grass + 30% Gliricidia sepium + 10% rice bran + 2,5% molasses), P2 (57,5% elephant grass + 30% Calliandra calothyrsus + 10% rice bran + 2,5% molasses), P3 (57,5% elephant grass + 30% Indigofera zollingeriana + 10% rice bran + 2,5% molasses). The observed variables consisted of dry matter digestibility, organic matter digestibility, pH, NH3, and volatile fatty acid (VFA) in-vitro. The results showed no significant difference between pH and N-NH3 values between all treatments. The highest dry matter digestibility, organic matter digestibility, and VFA were obtained in the P3 treatment, which was 69.12%, 70.00%, and 253.33 mMol. Based on the study’s results, adding various legumes in elephant grass silage could improve the digestibility of dry matter, the digestibility of organic matter and VFA of total silage. ABSTRAK Rumput gajah merupakan hijauan pakan yang palatable, memiliki nilai nutrisi yang baik untuk ternak ruminansia dan merupakan bahan pakan hijauan yang baik untuk dibuat silase. Namun, silase yang hanya mengandalkan bahan rerumputan memiliki kandungan protein yang relatif rendah. Pakan hijauan yang merupakan kombinasi rumput dan legum dibutuhkan untuk saling melengkapi unsur nutrien yang diperlukan oleh ternak. Gamal, kaliandra dan Indigofera merupakan beberapa legum yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi sumber protein tambahan dalam silase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai macam legum dalam silase rumput gajah terhadap kecernaan dan produk fermentasi in-vitro. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri dari empat perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali, sehingga terdapat 16 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan yaitu: P0 (87,5% rumput gajah + 10% dedak padi + 2,5% molases), P1 (57,5% rumput gajah + 30% gamal + 10% dedak padi + 2,5% molases), P2 (57,5% rumput gajah + 30% kaliandra + 10% dedak padi + 2,5% molases), P3 (57,5% rumput gajah + 30% Indigofera zollingeriana + 10% dedak padi + 2,5% molases). Peubah yang diamati terdiri dari kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), pH, NH3, dan VFA (vollatile fatty acid) secara in-vitro. Hasil penelitian menunjukkan nilai pH dan N-NH3 tidak terdapat perbedaan yang nyata antar semua perlakuan. KcBK, KcBO dan VFA tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 yaitu sebesar 69,12%, 70,00%, dan 253,33 mMol. Berdasarkan hasil penelitian penambahan berbagai macam legum dalam silase rumput gajah dapat meningkatkan kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan VFA total silase.
PENGARUH EKSTRAK LIMBAH WINE ANGGUR TERFERMENTASI MELALUI AIR MINUM TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI JANTAN Astiti N. M. S. D.; N. W. Siti; I. G. L. O. Cakra
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the organoleptic quality of male Balinese duck meat fed with fermented grape wine waste extract through drinking water. This research was conducted at the Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, located at Jalan Raya Sesetan, Denpasar for 2 months. The design used was a complete randomised design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates, each replicate consisting of 3 male Balinese ducks aged 1 day. Treatments consisted of P0 (male Balinese ducks given drinking water without fermented grape wine waste extract), P1 (male Balinese ducks given 2% fermented grape wine waste extract), P2 (male Balinese ducks given 4% fermented grape wine waste extract) and P3 (male Balinese ducks given 6% fermented grape wine waste extract). Variables observed were colour, aroma, texture, taste and overall acceptance of male Balinese duck meat. The analysis used was Non-Parametric kruskal wallis and if getting significantly different results continued with the Mann-Withney test. The results showed that the provision of grape wine waste extract cemented through drinking water at the level of 2%, 4%, and 6% was able to improve the texture and taste of male Balinese duck meat, but had no effect on the variables of colour, aroma and overall acceptance of male Balinese duck meat. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas organoleptik daging itik bali jantan yang diberi ekstrak limbah wine anggur terfermentasi melalui air minum. Penelitian ini dilaksanakan di kandang milik Fakultas Peternakan Universitas Udayana yang berlokasi di Jalan Raya Sesetan, Denpasar berlangsung selama 2 bulan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, masing masing ulangan terdiri dari 3 ekor itik bali jantan berumur 1 hari. Perlakuan terdiri dari P0 (itik bali jantan yang diberikan air minum tanpa ekstrak limbah wine anggur terfermentasi), P1 (itik bali jantan yang diberikan 2% ekstrak limbah wine anggur terfermentasi), P2 (itik bali jantan yang diberikan 4% ekstrak limbah wine anggur terfermentasi) dan P3 (itik bali jantan yang diberikan 6% ekstrak limbah wine anggur terfementasi). Variabel yang diamati adalah warna, aroma, tekstur, cita rasa serta penerimaan keseluruhan daging itik bali jantan. Analisis yang digunakan adalah Non-Parametrik kruskal wallis dan jika mendapatkan hasil yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Mann-Withney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak limbah wine anggur terfementasi melalui air minum pada taraf pemberian 2%, 4%, dan 6% mampu memperbaiki tekstur dan citarasa daging itik bali jantan, namun belum berpengaruh pada variable warna, aroma dan penerimaan keseluruhan daging itik bali jantan.
PEMBERIAN JUS KULIT BUAH MANGGIS (Gracinia Mangostana L.) PADA AIR MINUM TERHADAP LEMAK ABDOMINAL BROILER Bimantoro S. S.; I. P. A. Astawa; I. G. L. O. Cakra
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 3 (2025): Vol. 13 No.3(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Broiler meat is a strategic commodity that has shown increased production alongside milk, eggs, and beef. One of the advantages of modern broiler chickens is their rapid growth rate. However, this rapid growth comes with the consequence of increased body fat accumulation, particularly in the abdominal area. Excess abdominal fat not only reduces the percentage of carcass meat preferred by consumers but also decreases the economic value and health of broiler chickens. This study aimed to determine the effect of mangosteen peel juice (Garcinia mangostana L.) administered through drinking water on the abdominal fat of broilers. The study was conducted on Jalan Jalak Putih, Dajan Peken Village, Tabanan Regency, and lasted for 35 days. A completely randomized design (CRD) was used with four treatments and four replications, with each treatment unit consisting of 4 broilers, totaling 64 broilers. The observed variables included slaughter weight, cushion fat, mesenteric fat, gizzard fat, and abdominal fat. The treatments consisted of drinking water supplemented with 0% mangosteen peel juice (P0) as a control, 1% (P1), 2% (P2), and 3% (P3). The results showed that abdominal fat in broilers given P1, P2, and P3 treatments was not significantly different (P>0.05) from the control (P0). Based on these results, it can be concluded that adding mangosteen peel juice to drinking water at concentrations of 1%, 2%, and 3% does not have a significant effect on the abdominal fat of broilers. ABSTRAK Daging broiler merupakan komoditas strategis yang sedang menunjukkan kenaikan produksi disamping produk susu, telur dan daging sapi. Salah satu keunggulan ayam broiler modern adalah laju pertumbuhan yang sangat cepat, namun pertumbuhan yang pesat ini memiliki konsekuensi berupa akumulasi lemak tubuh, terutama di bagian abdominal. Lemak abdominal yang berlebih tidak hanya mengurangi persentase daging karkas yang disukai konsumen, tetapi juga menurunkan nilai ekonomis dan kesehatan ayam broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus kulit manggis (Garcinia Mangostana L.) melalui air minum terhadap lemak abdominal broiler. Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Jalak Putih, Desa Dajan Peken, Kabupaten Tabanan yang berlangsung selama 35 hari. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan dan setiap unit perlakuan terdiri dari 4 ekor broiler, sehingga digunakan 64 ekor broiler. Variabel yang diamati adalah berat potong, lemak bantalan, lemak mesentrium, lemak empedal dan lemak abdominal. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian air minum yang ditambahkan 0% jus kulit buah manggis (P0) sebagai kontrol, 1% (P1), 2% (P2), dan 3% (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lemak abdominal broiler pada perlakuan P1, P2 dan P3 tidak berpengaruh nyata (P>0,05) dibanding P0. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan jus kulit buah manggis dalam air minum menunjukkan dengan dosis 1%, 2%, dan 3% tidak memberikan pengaruh nyata terhadap lemak abdominal broiler.