Sikap sebagai pelayan Tuhan merupakan wujud keteguhan iman, kesatuan dalam kasih, serta pikiran yang terarah pada kebaikan sebagai cerminan hidup yang diperbarui dan berpusat pada Kristus. Hal ini tampak dalam pelayanan pengerja di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Sungai Yordan Tanap, Kembayan, Kalimantan Barat, meskipun masih ada sebagian yang belum sungguh-sungguh dalam melaksanakan tanggung jawab pelayanan. Penelitian ini bertujuan menilai implementasi sikap sebagai pelayan Tuhan berdasarkan Filipi 4:1–9 serta mengidentifikasi dimensi dominan yang memengaruhi implementasinya. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan survei dan wawancara, dianalisis melalui korelasi Pearson menggunakan SPSS 25, dengan uji validitas, reliabilitas, normalitas, confidence interval 5%, uji signifikansi regresi, dan one way anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi sikap sebagai pelayan Tuhan berada pada kategori “sedang”, dengan interval kepercayaan 198,6204–205,3396, yang sesuai dengan hipotesis pertama sehingga dinyatakan diterima. Selain itu, dimensi yang paling dominan menentukan implementasi sikap pelayan Tuhan adalah “hidup dalam kesatuan” (D2), dengan koefisien korelasi 0,970 dan koefisien determinasi 0,941 atau kontribusi sebesar 94,1%. Temuan ini mempertegas bahwa kesatuan dan kebersamaan merupakan faktor kunci dalam membentuk sikap seorang pelayan Tuhan, sehingga hipotesis kedua juga terbukti dan diterima. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan perlunya setiap pengerja di GBI Sungai Yordan Tanap mengembangkan keteguhan iman, menjaga kesatuan, dan memusatkan hidup pada Kristus agar sikap pelayanan dapat diimplementasikan secara konsisten dan berdampak positif bagi pertumbuhan gereja.