Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur sosial-ekonomi petani lokal dan masyarakat pendatang dalam ketertinggalan ekonomi di Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih adanya ketimpangan kesejahteraan petani di wilayah pedesaan meskipun sektor pertanian menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat. Perbedaan latar belakang sosial, akses sumber daya, serta strategi pengelolaan pertanian diduga membentuk struktur sosial-ekonomi yang tidak setara antara petani lokal dan masyarakat pendatang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan penelitian terdiri atas petani lokal, petani pendatang atau transmigrasi, serta pengurus kelompok tani. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perspektif teori Pierre Bourdieu, khususnya konsep modal ekonomi, modal sosial, dan modal kultural, untuk memahami posisi sosial-ekonomi petani dalam struktur pedesaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani pendatang cenderung memiliki modal ekonomi yang relatif lebih baik melalui kepemilikan lahan dan pengelolaan usaha pertanian yang lebih intensif. Dari sisi modal sosial, keterlibatan aktif dalam kelompok tani memberikan akses terhadap bantuan, pelatihan, dan jaringan kelembagaan. Selain itu, petani pendatang juga menunjukkan modal kultural yang lebih kuat melalui kemampuan menerima dan menerapkan teknologi pertanian. Sebaliknya, petani lokal masih menghadapi keterbatasan dalam permodalan, jaringan sosial, dan penguasaan pengetahuan pertanian. Perbedaan penguasaan modal tersebut membentuk struktur sosial-ekonomi yang tidak setara dan mereproduksi ketertinggalan ekonomi petani lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketertinggalan ekonomi petani di Kecamatan Buke merupakan fenomena struktural yang dipengaruhi oleh distribusi modal yang tidak merata.