Ketersediaan obat berpengaruh pada kualitas pelayanan di rumah sakit, salah satu kendala yaitu kekosongan obat. Kekosongan obat dapat mengganggu rencana pengobatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor dominan terjadinya kekosongan obat pada tahap pengadaan.Penelitian deskriptif analitic dengan rancangan cross-sectional, menggunakan sampel dari seluruh item obat yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi meliputi obat yang tersedia tahun 2023 dengan kriteria eksklusi yaitu obat yang diadakan tahun 2023. Variabel dalam penelitian ini meliputi penganggaran, perencanaan dan pembelian obat. Analisis data menggunakan metode triangulasi. Identifikasi kegagalan dan dampak menggunakan langkah-langkah FMEA.Hasil penelitian menunjukkan terdapat sembilan potensi kegagalan yaitu anggaran, pemilihan jenis obat, kompilasi penggunaan, metode perhitungan, supplier, jaringan LKPP, surat pesanan, pelaksanaan kontrak dan SOP pengadaan. sembilan potensi kegagalan didapatkan tiga prioritas kegagalan berdasarkan perhitungan RPN yaitu anggaran, pemilihan jenis obat dan pelaksanaan kontrak. Dari tiga prioritas didapatkan delapan kegagalan yaitu 105 obat tidak dapat dibelanjakan, dua jenis kesamaan obat, 45 obat kombinasi, pemilihan obat sesuai prevalensi penyakit tinggi, 20 obat diluar formularium, tiga kontrak tidak ditagihkan 100 %, tujuh kontrak pengiriman di akhir masa pesanan dan semua penyedia tidak memberikan informasi stok obat.Berdasarkan Perhitungan RPN didapatkan tiga faktor dominan kekosongan obat. Faktor pertama anggaran nilai RPN 384. Anggaran yang diberikan yaitu 5,48 % dari total anggaran rumah sakit, perencanaan anggaran dengan dana yang tersedia 71.68%. Usulan rekomendasi, direktur dan manajemen dapat meningkatkan anggaran sesuai standar. Faktor kedua obat dikirim pada akhir masa pesanan nilai RPN 150. Strategi yang dapat dilakukan dengan melakukan peminjaman obat ke dinas kesehatan, apotek swasta atau rumah sakit jejaring. Faktor ketiga yaitu tidak adanya informasi stok obat nilai RPN 150, Strategi yang dapat dilakukan dengan membuat sistem informasi obat. Anggaran, pengiriman pada akhir masa pesanan dan tidak adanya informasi stok obat oleh penyedia merupakan faktor dominan kekosongan obat di RSUD Kabupaten Mappi.