Seiring dengan bertambahnya populasi lansia, isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan dan ketergantungan dalam kehidupan sehari-hari menjadi semakin umum. Dalam kondisi seperti itu, keluarga bertindak sebagai sistem pendukung utama, mengambil tanggung jawab pengasuhan yang berkelanjutan. Namun, menjadi pengasuh mandiri bukan berarti tanpa tantangan. Keluarga sering mengalami stres emosional, kelelahan fisik, dan tekanan keuangan. Terlepas dari kesulitan-kesulitan ini, rasa penghargaan atau kepuasan pribadi yang diperoleh dari pengasuhan dapat menjadi sumber kekuatan dan motivasi yang sangat penting, penelitian ini mengeksplorasi korelasi antara penghargaan yang dirasakan oleh pengasuh dan tingkat kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga yang berusia lanjut. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional, data dikumpulkan dari enam puluh satu pengasuh yang tinggal bersama anggota keluarga lansia di wilayah Malang antara Januari dan Mei 2025. Partisipan dipilih melalui pengambilan sampel secara tidak sengaja. Instrumen penelitian meliputi skala persepsi penghargaan pengasuhan dan kuesioner kemandirian keluarga. Analisis korelasi Spearman dilakukan dengan ambang batas signifikansi 0,05. Temuan menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan secara statistik antara persepsi penghargaan dan kemandirian keluarga (r = 0,287; p = 0,025). Hal ini menunjukkan bahwa pengasuh yang merasakan lebih banyak penghargaan pribadi dari peran mereka cenderung menumbuhkan kemandirian yang lebih besar dalam unit keluarga ketika memberikan perawatan lansia. Hasil ini menekankan pentingnya mempromosikan pengalaman emosional yang positif.