Kemiskinan tetap menjadi masalah pembangunan multidimensi dan menunjukkan kesenjangan antar wilayah di Provinsi Sumatera Utara, khususnya antara daerah perkotaan dan daerah terpencil. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas sumber daya manusia dan faktor demografis terhadap kemiskinan secara simultan dengan mempertimbangkan hubungan antar dimensi kemiskinan. Data yang digunakan adalah data lintas sektoral sekunder tahun 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencakup 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Kemiskinan diukur menggunakan tiga indikator Foster–Greer–Thorbecke (FGT): Indeks Penduduk Miskin (P0), Indeks Kesenjangan Kemiskinan (P1), dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Kualitas sumber daya manusia dibentuk sebagai indeks komposit dari Rata-rata Tahun Sekolah, Harapan Tahun Sekolah, dan Pengeluaran per Kapita menggunakan Analisis Komponen Utama (PCA). Analisis dilakukan menggunakan Analisis Varians Multivariat (MANOVA) diikuti dengan regresi linier berganda parsial. Hasil PCA menunjukkan satu komponen utama yang mewakili kualitas sumber daya manusia dan mampu menjelaskan 70,75% variasi data. Hasil MANOVA menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia, kepadatan penduduk, dan rasio jenis kelamin secara signifikan memengaruhi ketiga dimensi kemiskinan secara simultan, sedangkan pertumbuhan penduduk tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Analisis regresi menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia dan kepadatan penduduk secara signifikan memengaruhi semua dimensi kemiskinan, sedangkan rasio jenis kelamin hanya memengaruhi tingkat kemiskinan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan pembangunan di daerah yang jarang penduduknya merupakan strategi kunci pengentasan kemiskinan di Sumatera Utara. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah daerah dan pemangku kebijakan fokus pada program-program peningkatan akses pendidikan berkualitas, pelatihan keterampilan, serta pengembangan infrastruktur dasar dan ekonomi lokal di wilayah kepadatan penduduk rendah seperti Kepulauan Nias.