Tanaman Obat Keluarga (TOGA) memiliki potensi besar sebagai sumber obat herbal yang terjangkau dan berkelanjutan. Namun, pemanfaatannya oleh kader kesehatan di Puskesmas Poncol masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pendekatan sociopreneurship dalam mengoptimalkan pemanfaatan TOGA menjadi jamu herbal dalam kemasan siap seduh. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus di wilayah kerja Puskesmas Poncol. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sociopreneurship melalui pelatihan kader, pengembangan produk, dan strategi pemasaran berbasis komunitas berhasil meningkatkan keterampilan kader, menciptakan produk jamu siap seduh, serta membuka peluang ekonomi baru. Tantangan utama meliputi keterbatasan modal, akses teknologi, dan dukungan regulasi. Jenis Jamu yang dihasilkan: Kunyit Asam, Jahe Merah, Temulawak, Sirup Beras Kencur. Peningkatan pendapatan kader rata-rata sebesar 40% dalam 6 bulan, dengan rincian peningkatan dari Rp 150.000 pada bulan pertama menjadi Rp 450.000 pada bulan keenam. Peningkatan pengetahuan kader tentang TOGA dari 30% menjadi 85% setelah intervensi. Kader mampu mengidentifikasi 15 jenis TOGA dan mengolahnya menjadi produk jamu siap seduh yang memiliki nilai jual. Disimpulkan bahwa sociopreneurship dapat menjadi strategi efektif untuk memberdayakan kader dan meningkatkan pemanfaatan TOGA secara berkelanjutan. Kata kunci: Sosiopreneurship; Tanaman Obat Keluarga; Jamu Herbal; Kader Kesehatan; Pemberdayaan Masyarakat