Puskesmas sebagai institusi pelayanan kesehatan primer memiliki peran strategis dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Namun, tantangan yang dihadapi seperti keterbatasan sumber daya, kesenjangan akses, dan rendahnya keberlanjutan program menuntut adanya paradigma baru dalam manajemen kesehatan masyarakat. Salah satu pendekatan yang semakin relevan adalah sosiopreneurship, yakni penerapan nilai-nilai kewirausahaan sosial dalam pelayanan publik. Konsep ini menggabungkan misi sosial dengan prinsip inovasi, efisiensi, dan kolaborasi lintas sektor. Kajian teoretis yang berbasis narrative review ini menelaah integrasi nilai sosiopreneurship dalam manajemen Puskesmas, dengan studi kontekstual pada Puskesmas Bunguran Selatan, Kabupaten Natuna, yang dikenal memiliki sejumlah inovasi sosial seperti Pesona Gelas Natuna, Resi Poskilat, Kepak Santri, dan Selinah. Keempat inovasi tersebut mencerminkan praktik nyata nilai-nilai sosiopreneurship: empati sosial, kolaborasi, dan keberlanjutan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Melalui analisis terhadap teori kewirausahaan sosial, manajemen publik berbasis nilai sosial, dan inovasi kesehatan masyarakat, penelitian ini menemukan bahwa integrasi nilai sosiopreneurship dapat memperkuat peran Puskesmas sebagai agen perubahan sosial (social change agent). Kajian ini menghasilkan model konseptual Sociopreneurship for Public Health Transformation (SPHT) yang menekankan pada orientasi nilai sosial, tata kelola kolaboratif, inovasi berbasis pemberdayaan, serta keberlanjutan dan pengukuran dampak. Model ini menjadi temuan utama yang mendukung perumusan strategi implementasi sosiopreneurship di Puskesmas Bunguran Selatan, menjawab tuntutan judul untuk menyajikan hasil kajian teoretis yang aplikatif. Kajian ini merekomendasikan penguatan kepemimpinan sosial, kemitraan multi-sektor, serta model bisnis sosial mikro untuk memastikan keberlanjutan program kesehatan di daerah perbatasan.