Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter dan moralitas santri, namun hingga kini masih menghadapi berbagai problematika kepemimpinan dan tata kelola. Kepemimpinan yang terpusat pada figur tunggal, minimnya regenerasi, rendahnya profesionalisme manajerial, serta resistensi terhadap perubahan menjadi faktor yang menghambat pengembangan mutu pendidikan pesantren. Penelitian ini menawarkan model kepemimpinan alternatif yang berbasis pada Falsafah Huma Betang, kearifan lokal masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang menekankan nilai gotong royong, kebersamaan, toleransi, kerukunan, dan hidup berdampingan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pustaka dengan menelaah literatur tentang kepemimpinan pesantren, manajemen pendidikan Islam, dan nilai-nilai Huma Betang. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Huma Betang ke dalam kepemimpinan pesantren dapat menjadi solusi efektif terhadap problematika kelembagaan, terutama dalam menciptakan tata kelola yang lebih partisipatif, kolaboratif, dan adaptif. Nilai gotong royong berpotensi mengurangi sentralisasi kepemimpinan, nilai kebersamaan memperkuat solidaritas organisasi, toleransi mendukung pengelolaan keragaman, sedangkan nilai rukun dan hidup berdampingan mendorong terciptanya harmoni serta stabilitas sosial di lingkungan pesantren. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Model Kepemimpinan Berbasis Falsafah Huma Betang menawarkan kontribusi konseptual yang signifikan bagi penguatan tata kelola pesantren sekaligus menegaskan pentingnya kearifan lokal sebagai landasan pengembangan kepemimpinan pendidikan Islam di era modern.