Kemajuan teknologi digital membawa dampak besar terhadap cara masyarakat berinteraksi dan memperoleh informasi. Di balik manfaat tersebut, tersebar pula informasi keliru atau hoaks yang semakin sulit dikendalikan dan, tanpa disadari, dapat mengancam sikap bela negara. Berbagai program literasi digital yang digagas pemerintah sejauh ini memang sudah dijalankan melalui mekanisme formal, namun dalam praktiknya belum benar-benar mampu meredam penyebaran hoaks. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menelaah secara kritis kesenjangan antara pendekatan literasi digital bela negara yang dilaksanakan secara struktural dengan fenomena hoaks yang berkembang cepat, berorientasi pada emosi, dan menyasar publik secara langsung. Penelitian memakai metode studi literatur dengan mengumpulkan informasi dari sumber sekunder berupa jurnal ilmiah, laporan kebijakan, serta publikasi terpercaya lainnya. Hasil analisis menunjukkan adanya kondisi yang dapat disebut sebagai efektivitas semu, yaitu situasi ketika program literasi digital dianggap berhasil berdasarkan parameter administrasi, tetapi tidak berdampak nyata terhadap perilaku masyarakat dalam menyaring informasi. Kesenjangan fundamental muncul akibat ketidakcocokan karakter program yang cenderung kaku dengan realitas penyebaran hoaks yang adaptif dan sering kali memanfaatkan reaksi emosional. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan literasi digital bela negara memerlukan transformasi dari yang bersifat administratif-formal menuju pendekatan adaptif yang menyentuh dimensi psikologis dan emosional masyarakat.