Perubahan pola belajar pada siswa sekolah dasar menempatkan kegiatan membaca sebagai fondasi utama dalam membangun kemampuan berpikir, membentuk kebiasaan belajar, dan menumbuhkan kemandirian literasi sejak tahap awal pendidikan. Pada praktik keseharian di kelas rendah, proses membaca tidak hanya hadir sebagai aktivitas rutin, tetapi berkembang sebagai ruang interaksi antara guru, siswa, dan lingkungan belajar melalui kegiatan literasi pagi yang disusun secara terstruktur. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan secara mendalam mekanisme implementasi, peran pihak-pihak terkait, serta bentuk konsistensi dan variasi praktik yang muncul selama proses pelaksanaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, yang kemudian dianalisis secara tematik untuk menemukan pola-pola makna yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program berlangsung secara terstruktur, melibatkan koordinasi antarelemen pelaksana, dan didukung komitmen aktor kunci, meskipun dalam praktiknya tetap dipengaruhi oleh kondisi sumber daya, budaya kelembagaan, dan dinamika lingkungan kerja. Selain itu, ditemukan bahwa keberhasilan implementasi sangat dipengaruhi oleh komunikasi, adaptasi strategi, serta keterpaduan antara kebijakan dan praktik operasional sehari-hari. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan manajemen implementasi, peningkatan kapasitas pelaksana, serta pengembangan kebijakan berbasis temuan empiris agar program serupa dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.