Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tinjauan Sistematis: Pengaruh Vaksinasi Hpv Terhadap Penurunan Prevalensi Infeksi Hpv Tipe 16 Dan 18 Pada Wanita Usia Subur Apsari, Shafira Nova; Azzahra, ⁠Ghitanisa; Gusti, Qais Maulana
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6905

Abstract

Latar Belakang: Kanker serviks tetap menjadi beban kesehatan global utama, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, dengan tipe HPV 16 dan 18 sebagai pendorong utama insidensi tinggi. Meskipun program vaksinasi HPV nasional telah diterapkan, efektivitas pada wanita usia subur (≥17 tahun) memerlukan evaluasi berbasis populasi. Tujuan: Tinjauan sistematis ini menilai pengaruh vaksinasi HPV terhadap penurunan prevalensi infeksi HPV 16/18 pada wanita usia subur. Metode: Pencarian berpedoman PRISMA 2020 di PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Cochrane Library (2020-2025) mengidentifikasi empat studi berbasis populasi (kohort/surveilans/cross-sectional). Populasi menargetkan wanita usia subur; sampel dari Kolombia, Jepang, Australia, Swedia. Ekstraksi data menggunakan tabel standar; sintesis naratif membandingkan prevalensi pra/pasca-vaksinasi. Hasil: Vaksinasi menurunkan prevalensi HPV 16/18 sebesar 61-99%, dengan Swedia mencatat penurunan 98-99% melalui kekebalan kelompok. Kesimpulan: Vaksin HPV memberikan perlindungan tingkat populasi yang substansial, mendukung perluasan vaksinasi catch-up untuk eliminasi kanker serviks.
Akurasi Diagnostik Radiomik Ct Koroner Dibandingkan Fractional Flow Reserve (Ffr) untuk Mengidentifikasi Stenosis Koroner Signifikan Secara Fungsional: Suatu Meta-Analisis Gusti, Qais Maulana; Apsari, ⁠Shafira Nova; Azzahra, ⁠Ghitanisa
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7031

Abstract

Penyakit arteri koroner (CAD) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular global dengan tren peningkatan kasus yang signifikan dalam dekade terakhir, terutama di negara berkembang dan maju (Susanti et al., 2025). Data statistik menunjukkan peningkatan insiden CAD sebesar 15% dalam lima tahun terakhir, dengan konsekuensi ekonomi dan sosial yang besar akibat komplikasi seperti infark miokard (De Maria et al., 2020). Pentingnya penilaian stenosis koroner yang signifikan secara fungsional menjadi isu global yang mendesak untuk menentukan strategi terapi yang optimal dan personalisasi pengobatan. Teori besar yang menjadi dasar adalah teori hemodinamika dan perfusi jantung yang menjelaskan hubungan antara derajat stenosis dan gangguan aliran darah (Sandoval et al., 2025). Evolusi pemikiran teoretis dalam diagnostik CAD berkembang dari analisis struktural menggunakan angiografi konvensional menuju teknik non-invasif dengan kemampuan fungsional seperti fractional flow reserve (FFR), yang kini dianggap standar emas dalam menilai hambatan aliran darah secara langsung (Cheng et al., 2021). Namun, FFR invasif memiliki keterbatasan seperti risiko komplikasi dan biaya tinggi, sehingga mendorong pengembangan teknologi alternatif seperti computed tomography coronary angiography (CCTA) dan radiomik CT koroner (Serruys et al., 2023). Radiomik CT koroner mengekstraksi fitur lanjutan dari citra CT yang mampu menilai jaringan adiposa peri-koroner dan karakteristik plak secara detail, sehingga dianggap memiliki potensi besar dalam mendeteksi lesi hemodinamik yang signifikan (Xu et al., 2024). Beberapa studi menunjukkan radiomik memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang menjanjikan, namun hasil bervariasi karena perbedaan metodologi dan teknologi CT yang digunakan (Yun et al., 2021). Oleh karena itu, meta-analisis sistematis diperlukan untuk mengevaluasi akurasi diagnostik radiomik dibandingkan FFR sebagai pembanding referensi (Peters et al., 2024). Permasalahan utama yang diangkat adalah ketidakpastian diagnostik dalam deteksi stenosis signifikan menggunakan metode non-invasif, yang berimplikasi pada keputusan terapi. Urgensi penelitian ini didorong oleh kebutuhan klinis untuk metode yang akurat, efisien, serta minim risiko invasif (Min et al., 2021). Selain itu, terdapat kesenjangan penelitian terkait standarisasi protokol radiomik dan validasi multisenter yang masih minim dalam literatur saat ini (Li et al., 2024). Konsep penelitian ini relevan secara khusus dalam konteks pelayanan kesehatan kardiovaskular di berbagai lokasi dengan keterbatasan fasilitas invasif, seperti di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, sehingga potensi implementasi radiomik sebagai alat skrining non-invasif sangat penting (Guo et al., 2024). Karakteristik khusus populasi CAD di Asia dengan prevalensi faktor risiko berbeda juga menimbulkan kebutuhan riset spesifik yang mendukung generalisasi aplikasi teknologi ini. Penelitian ini bermaksud mengisi research gap dalam pemetaan akurasi diagnostik radiomik CT, khususnya dalam konteks perbandingan langsung dengan FFR invasif, sekaligus mengevaluasi variabilitas hasil terkait metode ekstraksi fitur, jenis scanner, dan pendekatan AI yang digunakan (Suna et al., 2024). Kebaruan studi terletak pada sintesis data terkini dari studi skala besar dengan fokus metodologis yang ketat serta analisis subkelompok teknologi CT dan pendekatan radiomik. Tujuan utama penelitian ini adalah memberikan estimasi akurasi diagnostik radiomik CT koroner dalam mendeteksi stenosis yang hemodinamik signifikan secara fungsional dibandingkan FFR, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi akurasi tersebut. Manfaat teoretis penelitian ini adalah memperkaya kerangka teori diagnostik CAD non-invasif dengan memasukkan konsep fisiologi vaskular dan teknologi citra lanjutan. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang lebih efektif dan aman serta mendukung pengembangan protokol standar radiomik di praktik klinis.