Kota Ambon menghadapi permasalahan serius dalam pengelolaan sampah, di mana timbunan harian sekitar 246,74 ton melebihi kapasitas pengangkutan sebesar 185,5 ton sehingga terjadi penumpukan di beberaopa sudut kota dan TPA Toisapu dengan karakteristik sampah campuran berkadar air tinggi (sekitar 55%). Kondisi ini menurunkan nilai kalor efektif (LHV), menyebabkan pembakaran kurang stabil, dan menjadikan kinerja sistem Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) kurang efisien. Penelitian ini mengkaji sistem PLTSa konfigurasi turbin uap konvensional dengan konfigurasi terintegrasi rotary dryer, di mana uap panas keluaran turbin (170°C, 8 bar) dimanfaatkan sebagai media pengering sekaligus pengkondensasi untuk menurunkan kadar air sampah dari 55% menjadi 12% sebelum pembakaran. Analisis termodinamika dan eksergi dilakukan untuk laju alir sampah 2,1 kg/s dengan kondisi operasi sebagaimana guna membandingkan kinerja kedua sistem PLTSa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengeringan meningkatkan LHV dari 3,26 MJ/kg menjadi 7,55 MJ/kg, menaikkan daya listrik netto dari sekitar 0,60 MW menjadi 0,943 MW, serta meningkatkan efisiensi termal dari 8,8% menjadi 10,6% dan efisiensi eksergi dari 7,5% menjadi 10,1%. Analisis eksergi mengidentifikasi boiler sebagai sumber utama destruksi eksergi (sekitar 6,158 MW atau 66,7% dari total 9,232 MW), diikuti oleh rotary dryer dan turbin, sementara kontribusi pompa sangat kecil. Secara keseluruhan, konsep integrasi rotary dryer ini secara signifikan meningkatkan pemanfaatan energi dan eksergi dari sampah campuran serta mendukung pengelolaan sampah dan energi yang lebih berkelanjutan di wilayah pesisir seperti Ambon