The pronatalist perspective in Indonesia society regards having children as a measure of marital success, which may lead to psychological pressure for women who are unable to conceive. Moreover, psychological support for addressing this issue remains very limited. This study aims to explore the process of self-acceptance among women without offspring. The research employed a qualitative method using an in-depth case study approach to comprehensively examine the participants’ background, conditions, and interactions with their environment. Participants were selected through purposive sampling. The findings revealed that all four participants were able to achieve full self-acceptance after undergoing the five stages of acceptance: denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. The study highlights that family support, religious community, and spiritual beliefs have substantial impact on the process of self-acceptance. Strong social support and faith enabled participants to adapt, recover from emotional distress, and find meaning in life despite their inability to have children. The process of self-acceptance was found to have a positive impact on improving participants’ quality of life and inner peace. Pandangan masyarakat Indonesia yang pronatalis membuat keberadaan keturunan menjadi tolak ukur keberhasilan dalam pernikahan. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan psikologis pada ibu yang tidak memiliki keturunan. Selain itu, dukungan psikologis untuk mengatasi kasus ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses penerimaan diri pada ibu yang tidak memiliki keturunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus mendalam (in depth study) yang bertujuan untuk mempelajari secara menyeluruh mengenai latar belakang, status, dan interaksi lingkungan partisipan. Partisipan dalam penelitian ini dipilih melalui purposive sampling. Hasil penelitian menyatakan bahwa keempat partisipan pada penelitian ini mampu menerima diri secara utuh dan mereka berhasil melewati lima fase penerimaan diri. Fase yang dilalui oleh keempat partisipan antara lain denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa dukungan keluarga, komunitas rohani, serta keyakinan spiritualitas memiliki dampak besar dalam proses penerimaan diri. Dukungan sosial dan keimanan yang kuat membuat partisipan mampu beradaptasi, bangkit dari keterpurukan, serta menemukan makna hidup meskipun tanpa keturunan. Proses penerimaan diri ini berdampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup dan ketenangan batin partisipan.