(Anti-Drug Education for Peer-to-Peer Adolescents: An Analisis of the Aceh National Narcotics Agency`s Peer Educators Communication Model) Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji model komunikasi Duta Anti Narkoba Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh sebagai peer educator dalam edukasi Anti NAPZA kepada remaja sebagai bagian dari Upaya Pencegahan, Pemberantasa5n, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba, khususnya upaya pencegahan dan penyalahgunaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model komunikasi edukasi Anti NAPZA Duta Anti Narkoba Aceh dalam perannya sebagai peer educator adalah model komunikasi persuasif. Penerapan komunikasi persuasif adalah soft-approach melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, kreatif, baik secara formal seperti Seminar, Bimtek dan Workshop dan non-formal meliputi permainan, kuis, pameran dan kegiatan-kegiatan sosial. Selain dilakukan secara langsung, kegiatan edukasi penyalahgunaan Anti Narkoba juga memanfaatkan media (konvensional dan digital). Penggunaan media konvensional seperti TV Aceh, Koran, dan talkshow interaktif di radio, sedangkan media online adalah Instagram, TikTok, Youtube dan website. Program edukasi menggunakan model komuniksai persuasif berjalan baik terlihat dari capaian index Diktara dan Diktari BNN, walaupun terbatasnya sumber daya manusia dan keuangan. Saat ini program edukasi bahaya NAPZA masih berpusat di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, diharapkan ke depan program diperluas sampai ke kabupaten/kota lain di Aceh, dengan tidak hanya fokus meng-edukasi remaja umum/normal saja, tetapi juga remaja-remaja disabilitas. Abstact This study aims to examine the communication model used by the Anti-Drug Ambassador of the Aceh National Narcotics Agency as a peer educator in raining awareness of drug abuse among adolescents as part of national Prevention, Eradication, Abuse, and Illicit Trafficking of Narcotics, primarily on prevention and eradication drug abuse. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through Focus Group Discussions, observation, and documentation. The results show that the peer educators predominantly apply a persuasive communication model, implemented through a soft approach that engages youth in creative and enjoyable activities. These include formal programs such as seminar, training, and workshops, as well as informal initiatives such as games, quizzes, exhibitions, and social activities. Peer educators also maximalize the benefit of media in the execution of anti-drug education activities both conventional such as TV, newspapers, and radio interactive talk-show, and digital media like Instagram, TikTok, Website and Youtube. However, activities remain concentrated in Banda Aceh and Aceh Besar. Expending coverage to other districts, including outreach to adolescents with disabilities, is recommended to ensure broader and more inclusive prevention efforts.