Artikel ini mengkaji representasi kesadaran pangan dalam film Rumah Masa Depan yang mengangkat isu ketahanan pangan sebagai persoalan penting yang berkaitan erat dengan tantangan global seperti perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan ketidakstabilan ekonomi. Artikel ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan merujuk pada teori semiotika Charles Sanders Peirce untuk menganalisis tanda, simbol, dan makna yang membangun pesan tentang ketahanan pangan, nilai-nilai keluarga, serta representasi media. Analisis difokuskan pada tokoh Surti, seorang ibu sekaligus influencer media sosial yang merepresentasikan kesadaran akan pangan bergizi dan praktik hidup berkelanjutan. Melalui peran Surti, film ini menunjukkan bagaimana narasi media dan figur influencer membentuk persepsi publik terhadap pilihan pangan dan keberlanjutan. Surti tidak hanya menyediakan makanan sehat bagi keluarganya, tetapi juga mengedukasi masyarakat dalam memilih bahan pangan lokal dan bergizi, sehingga media diposisikan sebagai sarana penting dalam meningkatkan kesadaran pangan. Film ini juga menggambarkan tantangan rantai pasok pangan serta menekankan kebersamaan keluarga melalui aktivitas memasak dan makan bersama di rumah sebagai bentuk edukasi pangan sehari-hari. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Rumah Masa Depan merepresentasikan kesadaran ketahanan pangan melalui praktik domestik, komunikasi yang dimediasi media, dan keterlibatan komunitas berbasis akar rumput. Unsur visual dan naratif seperti lanskap alam, bahan pangan lokal, interaksi keluarga, dan praktik kuliner tradisional melambangkan keberlanjutan, kemandirian, dan tanggung jawab kolektif. Secara keseluruhan, film ini berfungsi sebagai media edukasi sosial yang membingkai ketahanan pangan sebagai praktik kultural dan komunikatif yang berakar pada kehidupan sehari-hari. This study examines the representation of food awareness in the film Rumah Masa Depan, which highlights food security as a critical issue closely linked to global challenges, including climate change, population growth, and economic instability. Employing a qualitative descriptive approach, the research draws on Charles Sanders Peirce’s semiotic theory to analyze signs, symbols, and meanings that construct messages related to food security, family values, and media representation. The analysis focuses on the character of Surti, a mother and social media influencer who embodies awareness of nutritious food and sustainable living practices. Through Surti’s role, the film illustrates how media narratives and influencer figures shape public perceptions of food choices and sustainability. Surti not only provides healthy meals for her family but also educates the broader community on selecting local, nutritious ingredients, positioning media as an essential tool for promoting food awareness. The film portrays challenges in food supply chains while emphasizing family togetherness through home-cooked meals, reinforcing everyday domestic practices as sites of food education. The findings reveal that Rumah Masa Depan represents food security awareness through mediated communication, community engagement, and grassroots participation. Visual and narrative elements, including natural landscapes, local ingredients, and traditional culinary practices, symbolize sustainability, self-sufficiency, and collective responsibility. Overall, the film serves as a medium of social education, framing food security as a cultural and communicative practice rooted in everyday life.