Kraniotomi adalah prosedur bedah saraf kritis untuk menangani kondisi intrakranial seperti trauma dan tumor otak. Pasien pasca-kraniotomi memerlukan pemantauan perawatan intensif karena risiko yang memengaruhi hasil. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik, diagnosis, profil hemodinamik, dan angka kematian pada pasien pasca-kraniotomi elektif dan darurat. Studi observasional retrospektif dilakukan pada pasien di ICU Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou dari Januari 2024 hingga Januari 2025. Studi ini mencakup 83 pasien, 18 di kelompok elektif dan 65 di kelompok darurat. Pada kelompok darurat, laki-laki lebih dominan, kelompok usia 18-40 tahun paling umum, trauma dengan diagnosis perdarahan intrakranial (ICH) adalah penyebab utama, dan angka kematiannya adalah 47,69%, dengan sebagian besar kematian terjadi setelah 24 jam. Pada kelompok elektif, perempuan lebih banyak ditemukan, kelompok usia 41-60 tahun mendominasi, dan Meningioma merupakan diagnosis yang paling sering terjadi, dengan angka kematian 38,89%. Hemodinamika pada kedua kelompok berfluktuasi dalam kisaran 0-20% dari nilai dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia 18-40 tahun (44,62%) dan laki-laki (80%) mendominasi pada kraniotomi darurat, sedangkan kelompok usia 41-60 tahun (86,67%) dan perempuan (83,33%) lebih umum ditemukan pada kraniotomi elektif. Diagnosis yang paling umum adalah Meningioma (78%) untuk kasus elektif dan SDH+ICH akibat trauma (15,38%) untuk kasus darurat. Angka kematian lebih tinggi pada kelompok darurat (47,69%) dibandingkan dengan kelompok elektif (38,89%).