Stres panas merupakan salah satu faktor lingkungan yang mengganggu fungsi fisiologis, kesehatan, serta produktivitas babi, terutama di daerah tropis dan subtropis. Ketika suhu udara melebihi rentang nyaman termal babi (18–22°C), berbagai masalah fisiologis dan kesehatan muncul, diikuti dengan penurunan performa produksi. Dampak yang sering terjadi meliputi perubahan metabolisme, pengurangan konsumsi pakan, dan gangguan pada saluran pencernaan. Berdasarkan tinjauan literatur terbaru yang menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR), mengkaji 30 artikel dari sumber terpercaya seperti Sinta, Scopus, Google Scholar, dan Garuda terkait kata kunci “heat stress”, “fisiologis”, “kesehatan”, “produktivitas babi”, dan “reproduksi”, ditemukan bahwa peningkatan suhu tubuh, kerusakan jaringan usus, serta menurunnya asupan pakan menjadi tanda utama respons babi terhadap stres panas. Studi ini menegaskan bahwa stres panas memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan dan produktivitas babi, yang tercermin dari perubahan parameter fisiologis dan kinerja produksi. Kerentanan terhadap stres panas juga bervariasi tergantung pada usia babi, sistem manajemen pemeliharaan, dan kapasitas adaptasi terhadap lingkungan. Mengingat intensitas perubahan iklim yang semakin meningkat, risiko stres panas pada babi diperkirakan akan semakin besar. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya mitigasi, seperti penyesuaian desain kandang, pengelolaan pakan yang tepat, pemberian suplemen nutrisi, serta seleksi genetik terhadap ras babi yang tahan terhadap kondisi panas. Secara keseluruhan, hasil tinjauan ini memperlihatkan bahwa stres panas memiliki dampak kompleks yang meliputi aspek fisiologis, kesehatan, dan produktivitas babi.