Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi dan dinamika pendekatan komprehensif berbasis sekolah (Whole School Approach) dalam menangani krisis bullying di lingkungan Sekolah Dasar Terpadu. Studi kasus intrinsik kualitatif ini dilakukan di Sekolah Dasar Islam Srengat, dengan fokus pada sinergi tripartit antara siswa, guru, dan orang tua. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara tematik. Temuan penelitian mengungkap bahwa implementasi pendekatan ini menghadapi tantangan kompleks di setiap pilar. Pada pilar siswa, meskipun program peer support dan duta anti-bullying berhasil meningkatkan kesadaran, efektivitasnya dibatasi oleh dinamika kelompok sebaya yang eksklusif dan hierarkis. Pada pilar guru, terdapat kesenjangan antara peran ideal sebagai pendeteksi dini dan fasilitator restoratif dengan realitas beban kerja administratif dan tekanan kurikulum yang padat. Sementara itu, pada pilar orang tua, tantangan utama terletak pada jurang persepsi yang menormalisasi bullying serta komunikasi yang bersifat reaktif dan satu arah. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Whole School Approach merupakan kerangka yang valid dan diperlukan untuk transformasi iklim sekolah yang lebih aman. Namun, keberhasilannya mensyaratkan implementasi yang kontekstual, dukungan struktural bagi guru, pembangunan kemitraan yang autentik dengan orang tua, serta komitmen berkelanjutan untuk menginstitusionalisasikan program. Penelitian ini berkontribusi pada peta jalan operasional bagi praktisi dan pembuat kebijakan dalam merespons krisis bullying secara holistik dan berkelanjutan di jenjang pendidikan dasar.