Penelitian ini mengkaji adab santri dalam perspektif tubuh melalui praktik kultural cium tangan dan berjalan menunduk sebagai ekspresi penghormatan terhadap kiai dan guru di lingkungan pesantren. Praktik-praktik tersebut tidak hanya dipahami sebagai simbol etika lahiriah, tetapi juga sebagai konstruksi makna yang tertanam dalam habitus santri dan diwariskan secara turun-temurun melalui proses pendidikan informal dan keteladanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, yang melibatkan observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta dokumentasi terhadap aktivitas keseharian santri di pesantren. Perspektif tubuh digunakan untuk menafsirkan bagaimana gestur, postur, dan gerak tubuh santri berfungsi sebagai medium internalisasi nilai adab, kepatuhan, dan spiritualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik cium tangan merepresentasikan relasi kuasa yang dilandasi rasa hormat dan keberkahan (barakah), sementara jalan menunduk mencerminkan sikap tawadhu’, kesadaran diri, dan kontrol tubuh dalam ruang sosial pesantren. Kedua praktik tersebut membentuk disiplin tubuh santri yang berkontribusi pada pembentukan karakter dan identitas keislaman mereka. Selain itu, adab berbasis tubuh ini berperan sebagai mekanisme sosialisasi nilai yang efektif, karena melibatkan pengalaman sensorik dan emosional secara langsung. Penelitian ini menegaskan bahwa adab santri tidak semata bersifat normatif-doktrinal, melainkan juga embodied practice yang hidup dalam keseharian pesantren. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya kajian pendidikan Islam, antropologi tubuh, serta diskursus etika pesantren dalam konteks pendidikan karakter berbasis budaya lokal.