Tujuan artikel ini untuk memotret Saung Swara, kelompok pertunjukan dari Kota Salatiga yang produktif berkarya dan pendampingan dalam tim produksi. Pendampingan tim produksi dilakukan oleh tim kampus UKSW Salatiga dalam dua proyek, yaitu LitFest dan SaE Festival. Tulisan ini akan mengulas sejarah pembentukan kelompok pertunjukan Saung Swara; proses kreatif Saung Swara dalam menggagas pertunjukan dan upaya Saung Swara dalam berkontribusi dalam membangun ekosistem kebudayaan Kota Salatiga. Untuk mewujudkan tujuan pengabdian tersebut, dilakukan cara dengan observasi umum, observasi berperan serta (participant observation), studi dokumentasi, dan wawancara. Keterlibatan pengabdian kepada masyarakat dalam ranah manajemen seni adalah praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Ada empat orang yang diobservasi, yaitu pimpinan dan tiga anggota Saung Swara. Hasil pendampingan manajemen seni menunjukkan bahwa Saung Swara mampu merawat kreativitas bermusik dan pertunjukan di Kota Salatiga; kreativitas Saung Swara tidak terbatas di ranah bunyi musik, namun mampu mengeksplorasi gerakan tubuh dalam media tarian kontemporer; dan Saung Swara memberi kontribusi secara aktif dalam menggagas dan menjadi motor penggerak kegiatan kebudayaan Kota Salatiga. Ketiga hasil tersebut menunjukkan bahwa Saung Swara mampu merawat ekosistem kebudayaan di Kota Salatiga secara dinamis. Pengabdian ini memberi rekomendasi agar tidak hanya kelompok independen seperti Saung Swara yang produktif memberi gagasan kreatif, namun pihak pemerintah dan swasta perlu memiliki gagasan inovatif dan dengan kolaborasi tersebut akan terbangun ekosistem kebudayaan di Kota Salatiga. The aims of the project are to document Saung Swara, a productive performance group from the city of Salatiga, and to examine the assistance provided by the production team. The production team assistance was carried out by the UKSW Salatiga campus team in two projects called LitFest and SaE Festival. This project identifies the history of Saung Swara group’s formation, creative process, and efforts in contributing to building the cultural ecosystem of Salatiga. To achieve these objectives, general observation, participant observation, documentation, and interview were conducted. This community service project involves the process of art management, particularly pre-production, production, and post-production. Four people, including the leader and three members of Saung Swara, were observed. The results indicate that Saung Swara is capable of nurturing musical creativity and performances in Salatiga. Moreover, it is not only limited to the realm of music, but is also capable of exploring body movements in the medium of contemporary dance as well as contributing to initiating and driving cultural activities in Salatiga. Thus, it can be stated that Saung Swara is able to dynamically maintain the cultural ecosystem in Salatiga. A further recommendation of the project is that an independent group such as Saung Swara should not be the only one being productive in providing inspiration.