Permasalahan permukiman kumuh di wilayah perkotaan merupakan isu multidimensi yang mencakup aspek fisik, sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Di Perkotaan Nabire, khususnya di Kawasan Pasar Kalibobo, tekanan urbanisasi yang tinggi, lemahnya tata kelola ruang, dan keterbatasan infrastruktur dasar telah memicu terbentuknya kawasan permukiman tidak layak huni. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya permukiman kumuh serta merumuskan strategi pengendalian yang kontekstual dan berkelanjutan sesuai dengan karakteristik lokal Nabire. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan dominasi pendekatan kuantitatif yang didukung oleh analisis kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan uji kontingensi untuk mengetahui hubungan antara faktor sosial-ekonomi, fisik-lingkungan, dan kelembagaan terhadap tingkat kekumuhan. Sedangkan analisis kualitatif menggunakan Analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengendalian berbasis kondisi internal dan eksternal kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek sosial-ekonomi (pendapatan, pendidikan, pekerjaan), aspek fisik-lingkungan (kualitas bangunan, drainase, sanitasi), serta aspek kelembagaan memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kekumuhan. Strategi pengendalian yang dihasilkan berfokus pada tiga prioritas utama, yaitu: (1) pencegahan, melalui penegakan rencana tata ruang dan pemberdayaan masyarakat; (2) peningkatan kualitas lingkungan, melalui perbaikan infrastruktur dasar secara partisipatif; dan (3) penguatan kelembagaan, dengan peningkatan kapasitas pemerintah daerah serta pelibatan masyarakat dalam seluruh tahapan perencanaan dan implementasi. Strategi ini sejalan dengan pendekatan slum upgrading terpadu yang direkomendasikan oleh UN-Habitat (2015), serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-11, yaitu mewujudkan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. The problem of slum settlements in urban areas is a multidimensional issue that encompasses physical, social, economic, and institutional aspects. In Nabire City, particularly in the Kalibobo Market area, high urbanization pressure, weak spatial governance, and limited basic infrastructure have led to the formation of uninhabitable residential areas. This research aims to identify the factors influencing the formation of slums and to formulate contextual and sustainable control strategies in accordance with the local characteristics of Nabire. This research uses a mixed methods approach, with a dominance of quantitative methods supported by qualitative analysis. Quantitative analysis was conducted using Chi-Square tests and contingency tables to determine the relationship between socio-economic, physical-environmental, and institutional factors and the level of slum conditions. Qualitative analysis, on the other hand, used SWAT analysis to formulate control strategies based on the internal and external conditions of the area. The research findings indicate that socio-economic aspects (income, education, employment), physical-environmental aspects (building quality, drainage, sanitation), and institutional aspects have a significant influence on the level of slum conditions. The resulting control strategy focuses on three main priorities: (1) prevention, thru the enforcement of spatial planning regulations and community empowerment; (2) improving environmental quality, by participatory improvement of basic infrastructure; and (3) strengthening institutions, by increasing the capacity of local governments and involving the community in all stages of planning and implementation. This strategy aligns with the integrated slum upgrading approach recommended by UN-Habitat (2015), and supports the achievement of Sustainable Development Goal (SDG) 11, which is to make cities and human settlements inclusive, safe, resilient, and sustainable.