Elmirna, Nora
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UPAYA MENGATASI KETERGANTUNGAN SISWA TERHADAP CHATGPT DALAM PEMBELAJARAN CERPEN KELAS XI DI SMA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEER REVIEW DISCUSSION Elmirna, Nora; Sujinah, Sujinah
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i1.9004

Abstract

ABSTRACT The development of artificial intelligence, particularly ChatGPT, has provided convenience in writing instruction; however, its uncontrolled use has the potential to create dependency and reduce students’ creativity. This study aims to reduce students’ reliance on ChatGPT in short story writing instruction through the implementation of the Peer Review Discussion method among eleventh-grade students at SMA Negeri 02 Bombana. The study employed a Classroom Action Research design based on the Kemmis and McTaggart model, conducted in two cycles. In Cycle I, students were still allowed to use ChatGPT as a stimulus for generating initial ideas, whereas in Cycle II the use of ChatGPT was completely eliminated to encourage independent thinking. The findings indicate that in Cycle I, students’ short stories were still dominated by uniform language patterns and low levels of originality, and participation in peer review activities had not yet been optimal. In Cycle II, the strengthened implementation of Peer Review Discussion increased students’ active engagement in providing feedback, deepened their understanding of the intrinsic elements of short stories, and resulted in more varied and original written works. Overall, the quality of students’ short stories improved, and their dependence on ChatGPT decreased significantly. Thus, the Peer Review Discussion method proved effective in enhancing students’ creativity, independence, and short story writing skills amid the challenges posed by the use of AI technology in education. Perkembangan kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, memberikan kemudahan dalam pembelajaran menulis, namun penggunaannya yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan ketergantungan dan menurunkan kreativitas siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan siswa terhadap ChatGPT dalam pembelajaran menulis cerpen melalui penerapan metode Peer Review Discussion pada siswa kelas XI SMA Negeri 02 Bombana. Penelitian menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pada siklus I, siswa masih diperkenankan memanfaatkan ChatGPT sebagai pemicu ide awal, sedangkan pada siklus II penggunaan ChatGPT ditiadakan sepenuhnya untuk mendorong kemandirian berpikir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I cerpen siswa masih didominasi pola bahasa yang seragam dan tingkat orisinalitas yang rendah, serta partisipasi dalam kegiatan peer review belum optimal. Pada siklus II, penguatan Peer Review Discussion mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam memberikan umpan balik, memperdalam pemahaman unsur intrinsik cerpen, serta menghasilkan karya yang lebih variatif dan orisinal. Secara keseluruhan, kualitas cerpen siswa meningkat dan ketergantungan terhadap ChatGPT menurun secara signifikan. Dengan demikian, metode Peer Review Discussion terbukti efektif dalam meningkatkan kreativitas, kemandirian, dan kemampuan menulis cerpen siswa di tengah tantangan penggunaan teknologi AI dalam pembelajaran.
IDEOLOGI NASIONALISME DALAM TUTURAN UPACARA BENDERA: ANALISIS WACANA KRITIS WODAK PADA SISWA SMA Elmirna, Nora; Rahma, Ulfa; Hermoyo, R. Panji
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9685

Abstract

Nationalism is often considered a natural characteristic, yet it is routinely produced through educational institutions to shape students' collective identity. The main focus of this research is to examine the construction of nationalist ideology in the speech of the flag ceremony at SMA Negeri 02 Bombana using Ruth Wodak's Critical Discourse Analysis model of Discourse-Historical Approach. The research stages were conducted qualitatively through the process of transcribing the speech of the ceremony instructor, field observations, and in-depth interviews to understand the institutional context. Data analysis focused on discursive strategies that include aspects of nomination, predication, argumentation, perspectivization, and the intensification and mitigation of meaning. The research findings indicate that nationalism is constructed through the framing of the inclusive identity of "we" as the subject of the nation who bears moral responsibility. This narrative dominates all segments of the ceremony with an emphasis on the topos of obligation and the threat of being left behind to legitimize students' compliance with school rules. Furthermore, institutional power relations are disguised through the use of paternalistic greetings that make ideological instructions feel like nurturing advice. The main conclusion confirms that the flag ceremony functions as a mechanism for reproducing state ideology that is normative and sacred in nature within the educational ecosystem. This discursive practice successfully transformed critical awareness into disciplinary compliance without any open resistance through very intensive and systematic national symbolism in a sustainable manner to create pure loyalty among all students. ABSTRAK Nasionalisme sering kali dianggap sebagai karakter yang alami, padahal ia diproduksi secara rutin melalui institusi pendidikan guna membentuk identitas kolektif siswa. Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji konstruksi ideologi nasionalisme dalam tuturan upacara bendera di SMA Negeri 02 Bombana dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Discourse-Historical Approach milik Ruth Wodak. Tahapan penelitian dilakukan secara kualitatif melalui proses transkripsi tuturan amanat pembina upacara, observasi lapangan, serta wawancara mendalam untuk memahami konteks institusional. Analisis data difokuskan pada strategi diskursif yang mencakup aspek nominasi, predikasi, argumentasi, perspektivisasi, serta intensifikasi dan mitigasi makna. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme dibangun melalui pembingkaian identitas inklusif "kita" sebagai subjek bangsa yang memikul tanggung jawab moral. Narasi tersebut mendominasi seluruh segmen upacara dengan penekanan pada topos kewajiban dan ancaman ketertinggalan guna melegitimasi kepatuhan siswa terhadap aturan sekolah. Selain itu, relasi kuasa institusional disamarkan melalui penggunaan sapaan paternalistik yang membuat instruksi ideologis terasa sebagai nasihat pengasuhan. Simpulan utama menegaskan bahwa upacara bendera berfungsi sebagai mekanisme reproduksi ideologi negara yang bersifat normatif dan sakral dalam ekosistem pendidikan. Praktik diskursif ini berhasil mengubah kesadaran kritis menjadi kepatuhan disipliner tanpa adanya resistensi terbuka melalui simbolisme nasional yang sangat intensif dan sistematis secara berkelanjutan guna menciptakan loyalitas murni pada seluruh peserta didik.