Seiring meningkatnya jumlah lansia, penurunan fungsi kognitif, kesehatan mental, dan keterbatasan aktivitas bermakna menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Lansia memerlukan kegiatan yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga mampu menstimulasi daya ingat, konsentrasi, dan interaksi sosial. Namun, pemanfaatan seni tradisi sebagai media terapi non-medis berbasis budaya lokal masih belum dikembangkan secara optimal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pendampingan pelatihan macapat bagi kelompok lansia di Kaplingan RW 20, Kelurahan Jebres, Kota Surakarta. Latar belakang kegiatan ini berangkat dari kebutuhan akan aktivitas bermakna bagi para lansia sebagai upaya menekan tingkat kepikunan serta menjaga kesehatan mental dan emosional. Macapat sebagai tradisi tembang Jawa tidak hanya memiliki nilai estetika dan budaya, tetapi juga memberikan manfaat terapeutik melalui kegiatan bernyanyi, menghafal, dan berekspresi secara musikal. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal, perancangan materi pelatihan macapat, pelaksanaan pelatihan secara bertahap, serta evaluasi hasil pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para lansia yang mengikuti pendampingan merasa lebih bahagia, memiliki rutinitas baru, serta menunjukkan peningkatan daya ingat, konsentrasi, dan kreativitas di usia senja. Aktivitas menembang juga berdampak positif terhadap kesehatan jasmani dan rohani peserta, mempererat hubungan sosial antarwarga, serta menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap warisan budaya Jawa. Dengan demikian, pelatihan macapat digunakan sebagai upaya menekan kepikunan dan juga sebagai media pelestarian seni tradisi sekaligus sarana terapi seni yang mendukung kesejahteraan lansia.