Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Creative Strategies and Network Development of a Nonformal Music Education Institution in Indonesia: A Case Study of Purwa Caraka Music Studio Riwayati, Lutfia Okta; Sari, Tika Puspita; Ayu Sarah Yanty Pasaribu; Khurotin Anggraeni; Abdulrasheed Olowoselu
Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Pendidikan Musik FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/musikolastika.v7i2.327

Abstract

Objective: This study aims to examine the creative strategies employed by Purwa Caraka Music Studio (PCMS) in developing its music education institution and to analyze the music education network that has been established and expanded across Indonesia. Method: This research uses a qualitative method with a case study approach, conducted through document analysis, observation, and interviews with PCMS instructors, students, and alumni. The data were analyzed using data reduction, data display, and inductive conclusion drawing techniques. Results and Discussion:The findings indicate that PCMS’s creative strategies are reflected in the implementation of fun learning, a flexible curriculum, diversification of musical genres, regular concert programs, and the use of digital media for online learning and promotion. In addition, PCMS has successfully developed a network of more than 78 branches across Indonesia, often referred to as the “octopus phenomenon,” which has expanded public access to non-formal music education. This network functions not only structurally but also as a social and cultural ecosystem, supported by alumni contributions in the entertainment, education, and creative industries. Conclusion: Thus, PCMS plays a significant role in supporting the development of musical creativity within Indonesian society. The institution serves not only as a place for music learning but also as a center for character development, creativity cultivation, and a cultural agent that strengthens the national music ecosystem.
Pelatihan Tembang Macapat Bagi Lansia Sebagai Upaya Menekan Tingkat Kepikunan di Kaplingan RW. 20 Jebres Surakarta Waluyo, Waluyo; Riwayati, Lutfia Okta; Sari, Tika Puspita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstorming Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Abdimas PHB : Jurnal Pengabdian Masyarakat Progresif Humanis Brainstormin
Publisher : Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/japhb.v9i1.9889

Abstract

Seiring meningkatnya jumlah lansia, penurunan fungsi kognitif, kesehatan mental, dan keterbatasan aktivitas bermakna menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Lansia memerlukan kegiatan yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga mampu menstimulasi daya ingat, konsentrasi, dan interaksi sosial. Namun, pemanfaatan seni tradisi sebagai media terapi non-medis berbasis budaya lokal masih belum dikembangkan secara optimal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pendampingan pelatihan macapat bagi kelompok lansia di Kaplingan RW 20, Kelurahan Jebres, Kota Surakarta. Latar belakang kegiatan ini berangkat dari kebutuhan akan aktivitas bermakna bagi para lansia sebagai upaya menekan tingkat kepikunan serta menjaga kesehatan mental dan emosional. Macapat sebagai tradisi tembang Jawa tidak hanya memiliki nilai estetika dan budaya, tetapi juga memberikan manfaat terapeutik melalui kegiatan bernyanyi, menghafal, dan berekspresi secara musikal. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal, perancangan materi pelatihan macapat, pelaksanaan pelatihan secara bertahap, serta evaluasi hasil pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para lansia yang mengikuti pendampingan merasa lebih bahagia, memiliki rutinitas baru, serta menunjukkan peningkatan daya ingat, konsentrasi, dan kreativitas di usia senja. Aktivitas menembang juga berdampak positif terhadap kesehatan jasmani dan rohani peserta, mempererat hubungan sosial antarwarga, serta menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap warisan budaya Jawa. Dengan demikian, pelatihan macapat digunakan sebagai upaya menekan kepikunan dan juga sebagai media pelestarian seni tradisi sekaligus sarana terapi seni yang mendukung kesejahteraan lansia.