Stunting adalah permasalahan kesehatan yang masih menjadi perhatian pemerintah, termasuk di Kabupaten Gianyar. Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang menjadi salah satu lokus stunting dengan angka yang cukup tinggi. Di Desa Kedisan terdapat 34 balita stunting dengan jumlah yang tinggi jika dibandingkan dengan desa lainnya di Kecamatan Tegallalang. Pemerintah Kabupaten Gianyar dengan diterbitkannya Perbup No 77 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Gianyar, melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) telah mengimplementasikan berbagai program, termasuk peningkatan gizi dan edukasi pola gizi, guna menekan angka stunting. Namun, efektivitas program ini masih menjadi pertanyaan mengingat masih terdapat balita yang mengalami stunting meskipun intervensi telah dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program peningkatan gizi dan edukasi pola gizi yang dilaksanakan oleh TPPS di Desa Kedisan. Fokus utama adalah mengevaluasi implementasi program serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dalam menurunkan stunting. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh 13 informan yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data menurut Miles & Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Evaluasi efektivitas program dilakukan dengan menggunakan empat indikator dari Budiani (2017), yaitu ketepatan sasaran program, sosialisasi program, tujuan program, dan pemantauan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program peningkatan gizi dan edukasi pola gizi yang dilakukan oleh TPPS telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang. Namun, efektivitas program ini masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya partisipasi masyarakat, dan koordinasi antarinstansi yang perlu ditingkatkan.