Mesin Mobile Bagging Unit (MBU) merupakan layanan utama PT. ABC yang berfungsi sebagai sarana pengantongan pupuk ZA Plus dalam mendukung kelancaran distribusi produk. Mesin ini berperan penting dalam rantai penyimpanan dan pengelolaan komoditas, baik dalam bentuk curah maupun kemasan. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, operasional MBU mengalami peningkatan downtime akibat faktor internal seperti kerusakan komponen dan gangguan mesin pewarna, serta faktor eksternal berupa keterlambatan pasokan bahan baku. Usia operasional mesin yang telah mencapai lima tahun juga berkontribusi terhadap penurunan performa dan ketidakstabilan laju produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas operasional mesin MBU serta mengidentifikasi sumber utama ketidakefisienan yang ditandai oleh tingginya downtime dan fluktuasi kecepatan produksi. Data penelitian meliputi catatan operasi, perawatan, hasil produksi, dan produk cacat pada periode Mei–Oktober 2025. Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) digunakan untuk mengukur efektivitas mesin berdasarkan availability, performance, dan quality, sedangkan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) diterapkan untuk mengidentifikasi potensi kegagalan dan menentukan prioritas perbaikan. Hasil analisis menunjukkan nilai OEE rata-rata sebesar 47,12%, masih jauh di bawah standar kelas dunia 85%, dengan Performance Efficiency sebagai faktor terendah. Analisis Six Big Losses mengungkapkan bahwa kerugian terbesar berasal dari reduced speed losses dan breakdown losses. Sementara itu, FMEA mengidentifikasi jarum jahit, nepel pisau, dan looper sebagai komponen dengan risiko tertinggi. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan penerapan perawatan preventif terencana, penggantian komponen kritis secara berkala, serta pemantauan kondisi mesin secara waktu nyata guna meningkatkan keandalan dan produktivitas mesin MBU secara berkelanjutan.