Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Landasan Psikologis sebagai Basis Pengembangan Budaya Kolaboratif Guru: Studi Kasus di SMPN 3 Cintapuri Darussalam Rahman, Arif; Irma, Irma; Puteri, Nazarni Dara; Aslamiah, Aslamiah; Amelia, Rizky
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/dr8r2267

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran landasan psikologis dalam pengembangan budaya kolaborasi guru di SMPN 3 Cintapuri Darussalam, Kabupaten Banjar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif terhadap kegiatan kolaboratif, serta analisis dokumen sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasa aman psikologis, kepercayaan, efikasi (self-efficacy) yang menguat melalui dukungan sejawat, dan motivasi profesional menjadi fondasi penting yang mendorong guru lebih terbuka berbagi ide, menerima umpan balik, dan terlibat dalam refleksi bersama. Pemenuhan kondisi psikologis tersebut secara langsung meningkatkan kualitas proses kolaborasi—dari koordinasi administratif menuju pembelajaran profesional—yang tercermin pada penguatan perencanaan pembelajaran dan keputusan pedagogis. Meskipun demikian, kolaborasi masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan waktu, beban administrasi, fluktuasi kehadiran, dan perbedaan gaya komunikasi yang dapat menurunkan kontinuitas forum serta kedalaman refleksi. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan aspek psikologis perlu disertai dukungan struktural dan kepemimpinan yang suportif, termasuk penjadwalan waktu kolaborasi yang terproteksi dan pengembangan kapasitas komunikasi profesional, agar praktik kolaboratif berkelanjutan dan berdampak pada mutu pembelajaran. Psychological Foundations as a Basis for Developing a Collaborative Teacher Culture: a Case Study at SMPN 3 Cintapuri Darussalam Abstract This study examines the role of psychological foundations in developing a culture of teacher collaboration at SMPN 3 Cintapuri Darussalam, Banjar Regency. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observations of collaborative activities, and analysis of relevant school documents. The findings indicate that psychological safety, trust, strengthened self-efficacy through peer support, and professional motivation are key foundations that encourage teachers to share ideas openly, engage in constructive feedback, and participate in reflective discussions. When these psychological conditions are met, collaboration becomes more productive—shifting from administrative coordination toward professional learning—resulting in improved lesson planning and pedagogical decision-making. However, collaboration remains constrained by limited time, administrative workload, fluctuating attendance, and differing communication styles, which can reduce continuity and the depth of reflection. The study underscores that strengthening psychological foundations must be accompanied by structural support and supportive leadership, including protected collaborative time and enhanced professional communication capacity, to sustain collaborative practices and improve instructional quality.
STRATEGI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MEMBUDAYAKAN KEDISPLINAN Hidayah, Nurul; Wijaya, Arinda Oktanthia; Puteri, Nazarni Dara; Murhartoyo; Ilmi, Zurjani; Suriansyah; Purwanti, Ratna
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 4 (2025): Volume 10. No4, Desember 2025.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.37860

Abstract

Discipline is one of the fundamental aspects in creating a school culture that is conducive to the learning process. This article examines the role of school principals in cultivating discipline within the school environment. The study employs a qualitative approach through literature review and analysis of educational leadership practices. The findings reveal that the principal of SMKN 2 Pelaihari acts as a role model, motivator, and supervisor in instilling the values of discipline among teachers, staff, and students. The strategies implemented include establishing clear regulations, maintaining consistency in enforcing school rules, providing motivation, and fostering a collaborative culture oriented toward disciplinary values. Furthermore, effective leadership is able to build harmonious communication and create a school environment that supports the internalization of discipline as part of students’ character development. In conclusion, the leadership of the school principal is a key factor in shaping a sustainable culture of discipline, which positively impacts the quality of learning and the overall school climate.
Budaya Kerja Disiplin Positif: Strategi Pemberdayaan Guru Purwanti, Purwanti; Rahman, Arif; Rahma, Raihani; Lyana, Sisca; Puteri, Nazarni Dara; Fitriadi, Muhammad; Suriansyah, Ahmad; Purwanti, Ratna
Empiricism Journal Vol. 7 No. 2: June 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v7i2.5410

Abstract

Penelitian tentang budaya organisasi dan disiplin kerja guru telah banyak dilakukan, tetapi kajian yang secara khusus menempatkan budaya kerja disiplin positif sebagai strategi pemberdayaan guru masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan budaya kerja disiplin positif serta menganalisis peran kepala sekolah dalam membangun lingkungan kerja yang mendukung profesionalisme guru secara sistematis, konsisten, dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dilaksanakan di SMP Negeri Candi Laras 1 Tapin, Kalimantan Selatan. Informan terdiri atas satu kepala sekolah dan dua guru yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan dan pengalaman mereka dalam pelaksanaan budaya kerja sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan sebagai komunikator, teladan kedisiplinan, motivator, dan fasilitator pengembangan profesional. Budaya kerja disiplin positif diwujudkan melalui komunikasi partisipatif, pembinaan humanis, keteladanan, pelibatan guru dalam pengambilan keputusan, serta dukungan terhadap peningkatan kompetensi. Penerapan budaya tersebut berkontribusi pada peningkatan motivasi, tanggung jawab, profesionalisme, dan keterlibatan guru dalam pengembangan sekolah. Dengan demikian, budaya kerja disiplin positif berpotensi menjadi strategi pemberdayaan guru yang humanis, partisipatif, dan berkelanjutan untuk memperkuat kualitas pendidikan. Positive Discipline Work Culture: Teacher Empowerment Strategies Abstract Research on organizational culture and teacher work discipline is extensive; however, studies that position a positive discipline work culture as a strategy for teacher empowerment remain limited. This study aimed to describe the implementation of a positive discipline work culture and analyze the principal’s role in creating an environment that supports teacher professionalism. A descriptive qualitative approach was employed at SMP Negeri Candi Laras 1 Tapin, South Kalimantan. The participants comprised one principal and two teachers selected purposively based on their involvement and experience in implementing the school’s work culture. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. Data credibility was strengthened through source and method triangulation. The findings indicate that the principal served as a communicator, role model for discipline, motivator, and facilitator of professional development. Positive discipline was manifested through participatory communication, humanistic guidance, exemplary conduct, teacher involvement in decision-making, and support for competency development. These practices contributed to teachers’ motivation, responsibility, professionalism, and participation in school development. Therefore, a positive discipline work culture can serve as a humanistic, participatory, and sustainable teacher empowerment strategy for improving educational quality.