Ketimpangan sosial yang dialami kelompok marjinal sering kali tidak muncul sebagai kekerasan fisik, melainkan bekerja secara tersembunyi melalui sistem dan relasi kuasa yang dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari. Film 24 Jam Bersama Gaspar merepresentasikan kondisi tersebut melalui narasi dan visual yang menampilkan penderitaan manusia sebagai akibat dari struktur sosial yang timpang. Penelitian ini secara eksplisit bertujuan untuk mengkaji representasi kekerasan struktural dalam film 24 Jam Bersama Gaspar serta alasan pemilihan film ini didasarkan pada kekuatannya dalam merefleksikan realitas sosial kelompok marjinal di ruang urban kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan memosisikan film sebagai objek kajian. Data diperoleh melalui pengamatan terhadap adegan, dialog, dan simbol visual yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce dengan merujuk pada teori kekerasan struktural Johan Galtung dan teori representasi Stuart Hall yang relevan dengan kajian budaya dan media serta telah banyak digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya terkait ketimpangan sosial dan praktik dominasi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menggambarkan praktik eksploitasi, perdagangan organ, dan pemiskinan kelompok kelas bawah sebagai bagian dari mekanisme sosial yang berlangsung secara sistemik, yang direpresentasikan melalui tanda-tanda visual gelap, relasi kuasa timpang antartokoh, serta ruang sosial yang membatasi mobilitas dan pilihan hidup kelas bawah. Kekerasan tidak ditampilkan secara langsung, melainkan bekerja melalui struktur sosial dan ekonomi yang membatasi pilihan hidup tokoh-tokohnya. Penelitian ini menegaskan bahwa 24 Jam Bersama Gaspar berfungsi sebagai media kritik sosial yang mengungkap bentuk-bentuk kekerasan struktural dan mendorong kesadaran terhadap ketidakadilan sosial. Representations of Structural Violence in the Film 24 Hours with Gaspar Abstract Social inequality experienced by marginalized groups often does not manifest as physical violence but operates covertly through systems and power relations that are perceived as normal in everyday life. The film 24 Hours with Gaspar represents this condition through narrative and visual elements that depict human suffering as a consequence of unequal social structures. This study explicitly aims to examine the representation of structural violence in 24 Hours with Gaspar, with the selection of the film based on its strong capacity to reflect the social realities of marginalized groups in contemporary urban settings. This research employs a descriptive qualitative approach, positioning the film as the primary object of analysis. Data were collected through observations of relevant scenes, dialogues, and visual symbols, and analyzed using Charles Sanders Peirce’s semiotic approach, referring to Johan Galtung’s theory of structural violence and Stuart Hall’s theory of representation which are closely connected to cultural and media studies and have been widely applied in previous research on social inequality and symbolic domination. The findings indicate that the film portrays practices of exploitation, organ trafficking, and the impoverishment of the lower class as part of systemic social mechanisms, represented through dark visual signs, unequal power relations between characters, and social spaces that restrict the mobility and life choices of the lower class. Violence is not presented explicitly but operates through social and economic structures that limit the characters’ life choices. This study confirms that 24 Hours with Gaspar functions as a medium of social critique that reveals forms of structural violence and encourages awareness of social injustice.