Greenhouse memerlukan sistem monitoring suhu dan kelembaban yang akurat untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Tantangan utama terletak pada pemilihan sensor yang tepat karena adanya perbedaan akurasi dan ketahanan. Penelitian ini membandingkan performa sensor DHT22 dan SHT31 dalam sistem monitoring greenhouse berbasis Internet of Things (IoT) dengan metode eksperimen kuantitatif. Pengujian dilakukan dalam kondisi lingkungan yang sama dan divalidasi menggunakan alat referensi MET-0083. Analisis dilakukan berdasarkan nilai MAE, RMSE, stabilitas sensor terhadap perubahan kondisi lingkungan, dan jangkauan pengukuran. Data dikelola secara otomatis menggunakan spreadsheet yang terintegrasi dengan Google Apps Script. Hasil menunjukkan bahwa SHT31 memiliki akurasi lebih tinggi, performa lebih stabil, serta jangkauan deteksi hingga 200 cm, sementara DHT22 terbatas pada 150 cm. Selama dua bulan pengujian, performa kedua sensor menurun. Untuk suhu, MAE SHT31 meningkat dari 0,790°C menjadi 1,494°C, dan DHT22 dari 0,850°C ke 1,160°C. RMSE suhu SHT31 naik dari 0,998 ke 3,044, dan DHT22 dari 1,105 ke 1,836. Pada kelembaban, MAE SHT31 naik dari 4,023% ke 9,542%, dan DHT22 dari 3,325% ke 9,880%. RMSE kelembaban SHT31 meningkat dari 23,551 ke 113,663, sedangkan DHT22 dari 18,393 ke 98,804. Dengan pendekatan coverage-based pada greenhouse berukuran 6×7 meter, penggunaan SHT31 dinilai lebih efisien. Oleh karena itu, SHT31 direkomendasikan sebagai sensor paling optimal untuk sistem monitoring greenhouse berbasis IoT.